Rss Feed
    Showing posts with label renungan. Show all posts
    Showing posts with label renungan. Show all posts
  1. Pak Asep dulunya seorang konsultan hukum sukses. Ia juga pernah menyambi sebagai jurnalis. Sampai berumur 75 tahun, tanahnya sudah tersebar di berbagai tempat. Kalau dijumlah ada puluhan hektar juga.

    Itu masa lalu. Ia bercerai, pergi dari rumah dengan baju di badan dan beberapa surat tanah yang dapat ia selamatkan. Dua anak yang keduanya perempuan tidak memedulikan. Sekarang ia hidup menumpang bersama seorang tua lain di sebuah rumah tua. Rumah tanpa toilet (jangan anggap remeh pentingnya toilet dalam sebuah rumah). Rumah dengan hanya satu lampu di ruang tengah, sesak hingga siang hari pasti terasa gerah.

    Jika menggunakan hiperbola, kondisi hidupnya mengenaskan. Terima kasih kepada Tuhan jika ia dapat makan sayur dua hari sekali. Sering ia harus menahan lapar hanya karena tidak tahan makan hanya berlauk sambal. Ada sambal setiap hari sudah termasuk mewah. Tidak jarang ia hanya melihat nasi dan garam di dapur. Berbeda dengan seorang tua satu lagi, Pak Asep tidak terbiasa makan hanya dengan nasi dan garam. Dalam keadaan terpaksa, mau tidak mau hanya makan nasi saja. Kalau perut dirasa masih tahan, ia memilih berpuasa makan.

    Bagaimana ia berakhir seperti itu? Itu cerita lain. Saya tidak pernah menginterogasi proses menyakitkan yang membuatnya terdampar di rumah tua tersebut. Cerita kehidupannya hanya didapat melalui apa yang ia ceritakan tanpa saya tanya. Tidak lebih. Yang saya tahu, sejak dua tahun terakhir ia pergi dari rumah, dia sibuk menjual tanahnya dengan harapan ada pegangan sampai ia mati nanti.

    Urusan tanah itu juga masih belum selesai, padahal hampir dua tahun dan sudah banyak uang keluar. Ia harus bolak-balik ke berbagai tempat mengurusi uang penjualan tanah dengan hasil nihil. Orang harus angkat jempol dengan usahanya. Tempat ia memiliki tanah bukannya dekat dari tempat ia tinggal. Ia harus naik bus antar kota dan berjalan di bawah terik matahari. Semua dilakukan sendirian tanpa teman. Dan pikir, umurnya 75 tahun! Bibir bawahnya gemetaran sepanjang hari, mengangkat gelas pun sudah sulit. Dia sama sekali tidak lincah, hanya sikap keras kepala yang tersisa sehingga ia mampu pergi ke sana kemari.

    Tanpa uang di tangan, ia harus pinjam ke sana kemari agar bisa berangkat mengurus penjualan tanah. Tidak secara langsung, tapi melalui seorang tua lain yang tinggal bersamanya. Namanya Pak Tri, 65 tahun. Pak Tri sudah lebih dikenal di lingkungan sekitar, sehingga lebih mudah meminjamkan uang. Tentu tidak selalu ada pinjaman. Kalau kebetulan uang sedang kosong di tangan, tidak ada yang bisa dilakukan selain membaringkan tubuhnya yang sudah sakit-sakitan di kamar pengap dan gelap.

    Sedikit banyak saya bisa memahami bagaimana keadaannya, bagaimana perasaannya. Apa yang dia rasakan pasti jauh lebih berat dari apa yang mampu saya bayangkan. Suatu hari, ia pernah memukul seorang calon pembeli karena emosi tidak kunjung dibayar tanahnya. Ia sampai berurusan dengan polisi karena kejadian itu. Setiap kali saya datang dan bertemu dia, saya akan diperdengarkan kekesalan yang sama, kekecewaan yang sama, ketidaksabaran yang sama. Ia ceritakan berkali-kali, hampir setiap kali saya bertemu dengannya.

    Keadaan pak Asep mempertegas kekhawatiran saya pada satu hal: Saat orangtua semakin uzur, apa yang bisa saya lakukan? Pertanyaan itu telah menggelayuti pikiran sejak beberapa tahun lalu. Sampai saat ini belum saya temukan jawabannya.

    Salah satu nenek saya pernah bilang, rambut saya berjambul, kalau besar akan jadi anak durhaka. Saya tak percaya ilmu titen semacam itu, tapi sempat beberapa kali saya dibilang anak durhaka oleh orang tua. Saya khawatir, suatu hari benar-benar menjadi anak durhaka. Berapa banyak orang tua, saat ia tidak lagi produktif bekerja, ditelantarkan anaknya? Saya mengenal banyak. Baanyak. Apalagi pikiran saya sudah teracuni kota, gaya hidup tidak acuh pada urusan orang lain.

    Tapi agaknya, keadaan tersebut sudah berlangsung lama, lama sejak sebelum gagasan ‘urus urusanmu sendiri’ mewabah di Indonesia. Cerita anak durhaka sudah ada sejak zaman Malinkundang! Sudah begitu tua. Ilmu titen nenek saya barangkali berasal dari pengamatan masa lalu bahwa sebagian besar anak berjambul menjadi durhaka. Hah?!!

    Barangkali, penelantaran orangtua masih akan terus ada sampai Tuhan akhirnya memutuskan bumi harus diakhiri hayatnya. Mari ambil beberapa contoh. Dari pada mengurusi orang tuanya, banyak yang justru sibuk mengurusi pembagian harta warisan orang tua. Mereka yang sudah menikah memilih diam, karena khawatir tidak adil. Tidak adil bila hanya memperhatikan orang tua dari istri atau suami saja, namun tidak mampu bila harus memperhatikan keduanya.

    Sebenarnya, terlepas dari potensi kedurhakaan saya, saya tidak habis pikir dengan sikap semacam itu. Secara, orang Indonesia itu dikenal sebagai masyarakat guyub. Bahasa ilmu sosiologinya, masyarakat kolektif. Kita sangat terikat dengan yang namanya kekeluargaan. Orang Jawa bilang: makan nggak makan, yang penting ngumpul. Prinsip itu pula yang hendak dianut ibu saya yang kebetulan orang Jawa. Dia tidak peduli saya kerja atau tidak, yang penting di rumah.

    Kata orang bijak, kasih orangtua sepanjang jalan, kenapa kasih anak bisa hanya sepanjang sumbu mercon? Orangtua di masyarakat guyub rela berkorban apa saja demi anak cucu. Orangtua tidak akan tahan melihat anaknya menderita bahkan ketika anak-anaknya sudah menikah. Selagi mereka masih bisa ikut campur memperbaiki kondisi kehidupan anaknya, mereka akan turun tangan. Bagi (kebanyakan) mereka, kita selamanya anak-anak. Bukan sekedar anak, tapi anak-anak.

    Itu pula yang dipikirkan Pak Asep untuk kedua anaknya. Tegas ia katakan, tidak mau berurusan dengan mantan istri lagi. Sementara untuk anak-anak, dia akan memberikan beberapa bagian dari uang yang akan didapatkan untuk mereka, walau mereka tidak perhatian. Anak tetap anak, begitu katanya.

    Saya tidak berpikir anak-anak pak Asep anak durhaka. Barangkali mereka juga ingin perhatian, tapi serba salah. Kita punya masalah yang sangat akut dalam berhubungan. Apa yang tampak sering kali berbeda dengan apa yang dipendam. Kita kerap tidak dapat mengutarakan isi pikiran dan bertindak seperti yang diinginkan. Apalagi jika berhadapan dengan orang yang berposisi lebih tinggi seperti orangtua.

    Terkadang hubungan seperti itu sedemikian dalam sehingga sedemikian sulit diubah. Bukan tidak ada yang ingin dilakukan, tapi apapun yang akan dilakukan akan terlihat salah. Katakanlah, jika anaknya datang dan sering memberi bantuan, orang akan berpikir anaknya tidak perhatian. Kenapa tidak diajak tinggal bersama? Padahal bisa saja, bapaknya yang keras kepala, seperti pak Asep misalnya. Anak lalu tidak datang, menuruti kata bapaknya, malah dibilang orang lain kurang ajar.

    Orang bilang, jangan pikirkan apa kata orang lain. Tidak, di sini kita tidak bisa seperti itu. Apa yang dibilang orang lain itu penting. Bagi orang seperti anak pak Asep, kata orang itu penting. Kata orang menggambarkan bagaimana diri kita, walaupun bukan seperti itu diri kita sebenarnya. Kita ‘tidak ada’ tanpa pengakuan orang lain. Dan dianggap tidak ada itu menyakitkan.

    Bisa jadi ada masalah lain yang membuat anak-anaknya tidak dapat memberi perhatian. Masalah yang saya tidak ketahui sama sekali. Bagaimanapun saya berharap salah satu anaknya berkenan merawat.

    Merawat orang tua. Itu yang dipikirkan orang tua terhadap anaknya. Saya belum jadi orang tua memang. Saya hanya mendapat cerita dari orangtua-orangtua. Semua orang tua yang saya kenal berharap ketenangan di hari tua, anak-anak sukses semua, kalau bisa berkumpul satu rumah. Hal yang terakhir justru jarang terjadi. Anak-anak harus berpisah dengan orangtua saat ia menikah. Beberapa siap bertetangga, sebagian lain jauh dari mereka.

    Saat anak menikah urusan  sudah berbeda, rasa tidak nyaman barangkali saja menghinggapi menantu. Hal ini dialami oleh seorang teman saya yang lain, yang merasa tidak nyaman tinggal serumah dengan mertua. Bukan karena tidak suka, tapi segan.

    Kalau mau mengikuti kebiasaan, saya bisa saja memerdekakan diri dari tanggung jawab merawat orang tua. Anak-anak yang lahir terakhir biasanya yang harus dikorbankan. Seperti adik saya, yang sudah diminta ibu agar tidak kuliah jauh-jauh supaya bisa memperhatikan dia.

    Tapi saya tidak ingin begitu. Okelah pada akhirnya adik saya yang berkorban hidup dekat dengan orangtua, lalu haruskah saya menghilang tidak jelas rimbanya? Kekhawatiran menjadi durhaka itu benar-benar menakutkan. Akhirnya saya tertumbuk di pertanyaan yang sama, apa yang bisa dilakukan? Saya benar-benar belum punya jawaban.

    Banyak yang bilang, anak tidak akan pernah mampu membalas pengorbanan orangtua. Tidak akan pernah cukup. Lantas apa perlu dipasrahkan saja? Anggap pengorbanan mereka di masa lalu sebagai tugas mereka. Tugas itu sudah rampung sekarang. Dan kita tinggal jalani hidup kita sendirian.
    Ini bukan soal balas budi. Bukan soal take and give. Bisa jadi kelahiran kita tanpa direncanakan, karena itu pula menghidupi kita tanpa direncanakan. Para orangtua yang saya kenal tak pernah berpikir membesarkan anak agar membayar kepada kita. Orangtua tidak pernah berpikir membesarkan anak seperti membesarkan hewan ternak, kalau sudah besar dijual dan dinikmati hasilnya. Tidak pernah.

    Bukan tidak ada orangtua yang seperti itu, tapi itu lain cerita.

    Sebagian orang memilih, diam dan patuhi. Saya bisa diam, tapi saya tidak dapat patuh. Maklum saya adalah produk masyarakat pasif agresif. Saya punya harapan dan keinginan. Pandangan hidup saya juga berbeda dengan orangtua.  Di sini letak inti persoalannya. Dari kasus yang serupa dengan saya, sebagian anak memilih melawan secara langsung, sebagian lain memilih pergi dari rumah. Saya hendak memilih opsi terakhir, tapi bagaimana jika saya kehilangan kesempatan memperhatikan mereka? Saya tidak akan pernah memaafkan diri jika kedua orangtua terlantar hidup menderita. Atau pahit-pahitnya, bagaimana jika saya kehilangan kesempatan melihat wajah mereka untuk terakhir kali?


    Barangkali saya terlalu jauh memikirkan hal yang belum saya jalani sehingga saya tidak menemukan jawabannya. Jika itu dirimu, apa yang akan kau lakukan?

  2. Minjam dari zoerooney.com


    Iklan televisi itu durasinya sedemikian pendek, rata-rata hanya 30 detik. Hebatnya 30 detik itu mampu menangkap seluruh permasalahan kita dan membuat kita selalu bahagia dengan menggunakan produk yang diiklankan. Kamu akan selalu ceria dan bahagia dengan menggunakan shampo tertentu, parfum tertentu, moisturizer tertentu, cairan pembersih tertentu, alat kontrasepsi tertentu, dan seterusnya-dan seterusnya. Bukankah senyum dan keriangan selalu menyertai para tokoh iklan sebagai bukti keampuhan produk. Coba dengarkan musik latar di setiap iklan televisi, mana ada yang mellow dan galau. Semuanya ceria.

    Iklan rokok lebih hebat lagi. Iklan rokok benar-benar seperti mengiklankan kucing dalam karung. Jangankan melihat bentuk rokok, bahkan bungkusnya pun kita tidak pernah tahu. Bukankah seperti mengiklankan lelembut, tidak tahu rupa bentuknya? Tapi ia selalu berhasil menampilkan citra ideal orang-orang yang diharapkan menghisapnya, target pasarnya. Dan isinya tidak jauh-jauh dari kesuksesan, kebahagiaan, petualangan, dan keceriaan. Padahal semua tahu, siapapun, selalu ada kalimat “merokok membunuhmu” di akhir setiap iklan. Kenapa tidak ada musik latar seperti musik pengiring kematian di iklan itu. Saya berharap setidaknya saat pengiklan menunjukkan kalimat kematian itu, musik latar berubah menjadi musik pengiring kematian.

    Tiba-tiba, iklan menjadi pemberi petuah baru. Iklan tidak semata memberitahukan produk dan keunggulan produknya, namun menyisipkan petuah hidup di dalamnya. Tiba-tiba, sebuah operator berfilosofi tentang kebebasan. Tiba-tiba, iklan air mineral memberi nasihat mengenai lingkungan. Tiba-tiba iklan pembersih lantai bicara tentang perhatian terhadap anak. Iklan susu anak bicara tentang kecerdasan anak. Tiba-tiba, kita semakin dibingungkan mana iklan mana petuah.

    Tapi itu tidak jadi soal bagi saya. Saya selalu berharap, andaikata diberikan kesempatan. Saya ingin merasakan hidup seperti di iklan, walau 30 detik saja. Tidak jadi soal apakah saya harus membeli produk iklan, bahkan jika itu rokok atau alat kontrasepsi. Barangkali apa yang saya harapkan diharapkan pula oleh banyak orang. Bedanya, saya lebih sering hanya berangan-angan, sementara mereka langsung bertindak, bertindak membeli produk dengan harapan mendapatkan kebahagiaan seperti di iklan.

    Apa itu kebahagiaan?

    Apa itu kebahagiaan? Apa itu kebahagiaan? Apa itu kebahagiaan? Apa itu kebahagiaan? Bahagiakah saya? Entahlah. Saya sedang berhadapan dengan ‘dunia nyata’ sebagai lawan ‘dunia mahasiswa’. Di sini saya bertemu orang-orang dengan persoalan hidup konkret. Kalau gagal tidak bisa mengulang tahun depan, tapi kehilangan kesempatan selamanya. Tidak bisa seenaknya mengungkapkan pikiran atau akan kehilangan pekerjaan.

    Saya tekankan, ini bukan semata tentang saya. Saya masih seorang sarjana dengan bayang-bayang ‘dunia mahasiswa’, jadi belum benar-benar merasakan pahitnya hidup (alah..). Seorang bapak dua anak mengeluh tidak bisa buat rumah karena gaji pas-pasan, atau bapak yang khawatir masa depan pendidikan anak-anaknya, seorang teman lama jadi bandar sabu-sabu agar dapat makan, seorang adik disunat gajinya 3 juta rupiah perbulan, atau seorang teman lain mengeluh karena perusahaan hanya kontrak 3 bulan. Silakan tambahkan daftar orang yang terpaksa melakukan apa yang tidak diinginkan sekedar bertahan hidup dan mengeluh sepanjang hidup,

    Saya tidak tahu berapa banyak orang di dunia ini sebenarnya selalu bersemangat di dalam hidup, selalu merasa bahagia dengan kehidupannya. Jika hidup seperti di iklan, tentu hidup selalu cerah. Tapi hadapilah, hidup bukan iklan.

    Halo...jangan bilang mereka tak bersyukur. Tapi ups, saya pun tidak tahu apa artinya bersyukur. Bapak yang belum bisa bikin rumah tadi berkata,”Yang penting bisa makan sehari-hari sama anak bisa sekolah, sudah tenang kita.” Bukankah itu bentuk rasa syukur? Namun di lain waktu di bilang,”Kalau gaji kita segini, manalah cukup. Aku pun nggak tahu anakku nanti kukuliahkan atau nggak. Sama sekali belum ada gambaran.”

    Saya tidak tahu apa itu syukur, dan apakah itu penting. Saya bicara fakta, orang-orang yang saya temui. Singkirkan sejenak ceramah agama dan bla-bla-bla. Mereka semua tahu, tanpa diceramahi, merasa kadang-kadang tidak bersyukur. “Tapi bagaimana, keadaannya memang begitu.”

    Keadaan. Semua bicara keadaan. Di dunia nyata orang bilang dalam satu istilah yang sama, “Keadaan”. Di dunia mahasiswa, orang bilang keadaan itu dengan istilah “Sistem”. Keadaan dalam bahasa orang awam serupa dengan sistem dalam bahasa orang intelek. Ada keadaan yang membuat mereka (bahkan) takut berharap. "Nggak usah sok bicara kebebasan dan kesetaraan, kalau tidak mau dipecat, disingkirkan, atau dipinggirkan. Nggak usah banyak berharap, kalau mau ikuti aturan saya." begitu kira-kira orang-orang yang mengendalikan keadaan membuat ancaman tersirat. 

    Bahagia dan syukur itu seperti dua sisi mata uang. Kalau tak bersyukur, rasanya tak pernah cukup, dan takkan pernah bahagia. Tapi syukur dan bahagia, sifatnya sementara bagi banyak orang. Seolah selalu ada ancaman dalam hidupnya, “bagaimana jika tahun depan tidak dipakai perusahaan lagi? Mau dikasih makan apa anak-anak?”

    Di mana senyumanmu?

    Iklan selalu punya satu keserupaan, senyum tertebar di mana-mana. Senyum bisa menjadi penanda keceriaan, keceriaan bisa menjadi penanda kebahagiaan. Tapi pergilah ke jalan, di bis kota, di halte, di ruang tunggu, di mana pun tempat seseorang sendirian. Lihat di mana senyuman mereka?
    So, Hadapi dengan senyuman itu omong kosong. Barangkali tidak banyak orang yang benar-benar mampu tersenyum pada dirinya sendiri saat ia sendirian, kecuali bila sedang jatuh cinta atau dapat rezeki.

    Saya terbiasa mendapati tatapan kosong.

    Di mana semangat hidupmu?

    Saya bertanya pada seorang tua berumur 65 tahun,”Atuk, bagaimana cara menjaga semangat hidup?”
    Orang yang saya panggil Atuk itu terdiam.”Ah, saya pun tidak tahu, Nak. Tapi saya tahu, orang stres pasti bawaannya tidak sabar. Ibarat roda kita ini sedang di bawah. Jadi kita harus sabar. Pasti ada masanya nasib kita berubah.”

    Saat itu pula, saya menyadari pertanyaan mengenai semangat hidup mestinya adalah pertanyaan untuk anak muda, bukan untuk orang tua. Orang-orang tua lain yang saya temui juga tak pernah bicara soal semangat hidup. Tipikal pernyataan “yang penting dapat makan”, “asal dapat hidup”,”sebenarnya tidak tahan, tapi kalau tak begitu tak makan”, terlalu sering saya dengar. Pernyataan yang membuat kita mafhum: Kita tidak pernah bisa hidup seperti di iklan (seberapa banyak pun kita beli produk mereka).

    Bahkan iklan 30 detik barangkali dibuat orang-orang yang selalu tertekan karena pekerjaan. Hidup terlalu mudah kalau tidak ada proses. Dan proses itu menuntut kesabaran. Bahkan butuh waktu berbulan-bulan untuk membuat iklan 30 detik. Terserahlah orang mau bersyukur atau tidak, dia mau bahagia atau tidak, terserah kau mau tersenyum atau tidak, mau punya semangat hidup atau tidak, ada satu hal yang pasti, apapun yang terjadi kita harus bisa bersabar menjalani hidup. 

  3. Malam Lain, Masih Terasing

    Monday, September 15, 2014


    www.bayattic.com

    Life is when we busy to think another thing. Hidup adalah ketika kita sibuk memikirkan hal lain. Saya lupa mengutip itu dari film apa. Bukan film Box Office tentunya. Saat ini, saya sedang mengalami hidup jenis itu, hidup ketika saya sibuk memikirkan hal lain.

    Malam ini saya masih seorang nokturnal, manusia malam. Sendiri, memikirkan diri. Seperti biasa banyak yang terlintas. Gagasan-gagasan lama yang terus-menerus muncul dan minta diuji kembali. Persoalan-persoalan yang saling bertentangan satu sama lain. Saat saya memutuskan untuk menulis tulisan ini, saya sedang memikirkan keterasingan. 

    ***
    Malam ini malam Ahad. Sabtu malam, tapi bukan malam Minggu. Begitu kata saya kepada Ihya, sahabat satu rumah kos. Bukan persoalan Islami atau tidak. Konotasi maknanya berbeda. Malam Ahad adalah malam pertama dalam satu minggu. Malam Minggu adalah malam terakhir. Yang pertama adalah hari pertama untuk memulai kesibukan, yang kedua adalah hari untuk bersenang-senang dan melupakan pekerjaan. 

    Saya tidak pernah punya malam Minggu. Seperti malam itu, saya sedang mengutak-atik skripsi untuk terakhir kali. Sebelumnya Ihya mengajak saya ke Kampus kesayangannya, jurusan Desain Komunikasi Visual MSD. Mulai duduk di depan pintu masuk kampus sampai pulang, soal skripsi tidak lepas dari pikiran. 

    Sesaat saya memutuskan bahwa draf skripsi saya sudah final, sebuah pesan singkat masuk. ‘Bay, sini nongkrong. Ada Edi Susilo’. Mas Fathoni mengajak saya keluar dari kamar, penjara kesukaan saya. 
    Fathoni dan Edi Susilo adalah dua orang yang dahulu menjadi teman diskusi setia kala saya masih hidup sekontrakan dengan mereka di rumah ‘reot’ yang kami namakan Rumah Semesta. Selain keduanya, masih ada orang-orang lain lagi yang juga suka berdebat di rumah berhantu itu: Andre, Hardha, Harmoko, Putra, Deni, dan Chris. 

    Itu baru penghuninya saja. Rumah Semesta adalah sebuah lokus yang menyatukan keragaman mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan, tempat di mana kami semua kuliah. Rumah Semesta adalah wilayah netral, tanggalkan sentimen keyakinan di depan pagar masuk. Di dalamnya kau manusia biasa dengan hak setara, bahkan kucing pun diperlakukan sama dengan manusia. Mungkin ada ratusan orang yang pernah singgah di sana. Sekedar mampir, menumpang tidur, menumpang makan, berdebat, sampai menumpang pacaran. Apapun yang ada di ruang tamu boleh dipergunakan dan dikonsumsi, kecuali perempuan tentunya. Apapun boleh diperbincangkan, dari persoalan toilet sampai tuhan. Sebagian orang bisa bertahan, kebanyakan hanya sekedar jalan-jalan.

    Singkatnya, nostalgia itu refleks menggerakkan keinginan untuk kembali bercengkerama. Alasan lainnya, bersama mereka adalah salah satu dari beberapa momen yang membuat saya menjadi manusia ‘normal’ untuk sementara. Setelah berganti kostum, saya dan adik saya meluncur ke De Kongkow, salah satu warung kopi di daerah Gambiran. 

    ***
    Ini pertama kalinya saya masuk ke warung kopi ini. Wajah-wajah familiar yang tidak saya ingat namanya segera terlihat begitu saya masuk ke dalam. Setelah sekedar menyapa, bersalaman, dan berbasa-basi saya mencari Fathoni dan Edi. Pencahayaan redup menyulitkan saya menemukan mereka. Akhirnya ditemukan juga di bagian tengah bersama dua orang lainnya. Satunya Istri mas Edi dan satu lagi, seorang perempuan, tapi saya tidak ingat siapa namanya. 

    Perbincangan seperti biasa. Topik-topik serius yang dibahas dengan jenaka. Di sisi lain kota ini, perbincangan-perbincangan senada sedang terjadi. Manusia-manusia malam tanpa kehidupan romantis, mengalihkan cintanya pada topik-topik yang sulit dipahami orang kebanyakan. Bukankah cinta juga begitu? :-)

    Tampaknya malam itu saya kurang beruntung. Ihya telah mengejek saya karena masih saja memikirkan skripsi ketika sedang nongkrong. Di sini pun saya jadi bahan ejekan karena masih saja mencatat sesuatu. Kebetulan, teman istri mas Edi juga adalah seorang jomblo, tidak punya pacar. Jadilah saya dan temannya itu bahan ejekan. 

    Saya tidak tahu apakah saya terlalu terlihat seperti orang yang kurang ‘kasih sayang’, tidak mengenal perempuan, tidak punya pacar, tepatnya tidak mau pacaran? Sial. Fathoni sesukanya bergurau saya jomblo tanpa bertanya siapa pacar saya sekarang. Walau pada faktanya memang tidak ada pacar. Atau lebih parah, saya justru menjadi salah tingkah ketika digoda. Sesunyi itukah hidup saya?

    ***
    Fathoni adalah salah seorang yang saya kagumi. Wawasan dan sikap demokratisnya. Sederhananya, dia selalu berhasil membuat saya melihat sudut pandang lain. Perjalanan skripsi saya juga saya konsultasikan kepadanya. Terkadang saya merasa ia tidak setuju dengan saja, tapi saya selalu gagal membaca itu di wajah dan kalimat-kalimatnya. Alih-alih menolak, dia selalu memberi pertimbangan-pertimbangan. Saya selalu merasa aman dengan orang-orang semacam itu. 

    Saat itu kami tinggal bertiga. Edi bersama istri dan temannya telah pulang lebih dahulu karena anak mas Edi sudah rewel. Tidak lama kemudian Chris, adik saya, juga ikut pulang karena tidak tahan dengan dingin, katanya. 

    Yogya memang lebih dingin dari biasanya sekitar sebulan terakhir. Saya masih ingat ibu penjaga warung langganan saya yang menggigil sewaktu saya membeli rokok di sana sekitar jam 3 pagi. Padahal sedang musim panas. 

    Katakanlah kami pasangan yang sedang dirundung cinta, dinginnya malam semakin meromantiskan suasana. Perbincangan-perbincangan menjadi semakin privat. Malam selalu begitu. Pada malam-malam lainnya, malam selalu bisa membuat orang membuka dirinya. Membuat orang bermimpi, mendengkur, dengan jari-jari entah menjelajah ke mana tanpa mereka sadari, membuat orang ingin bercerita soal rahasia-rahasia yang disembunyikan dibalik topeng kehidupan siangnya.

    Persoalan kami sama, gamang pulang ke rumah. Aku merasa sebagaimana dia, orang tua telah mempersiapkan sesuatu untuk kami di sana, di rumah yang telah jauh berbeda sejak kami berangkat ke Yogya. 

    “Aku nggak tahu mas, siap atau tidak kalau nanti pulang ke Riau” 

    “Kalau kata Bourdieu, kamu sudah punya modal intelektual, tapi belum punya modal politik, modal ekonomi, dan modal sosial. Orang-orang seperti itu biasanya lebih dekat ke dunia pendidikan.”

    Saya juga berpikir demikian. Menjadi pendidik adalah salah satu pilihan terbaik yang bisa dipikirkan. Saya tidak tegaan, itu membuat saya tidak bisa jadi pedagang. Saya juga masih terlalu moralis untuk bisa menjadi seorang politisi. Dan toh, saya juga bukan anak seorang terpandang agar bisa tiba-tiba dihormati ketika pulang ke rumah.

    “Tapi aku terlalu berbeda, Mas. Ibuku cuma tahu aku merokok. Itu pun dia bilang aku harus berhenti merokok kalau sudah di sana, soalnya aku disuruh melamar jadi guru di sekolah Islam.” kataku sambil tertawa miris.”Dia belum tahu bagaimana kacaunya hidupku di sini.”

     “Jangan takutlah. kita memang terasing. Tanpa sadar kita (mahasiswa) memang sengaja diasingkan. Kita tercerabut dari kehidupan sosial kita. Kita jadi khawatir untuk pulang. yah, paling nanti shock selama dua bulan. Aku yakin kamu bisa ngatasi itu. Tergantung analisis sosialnya.”

    “Tapi aku sudah terlalu lama tidak pulang ke sana, Mas. Adikku bilang, di sana sudah banyak berubah. Aku sama sekali nggak punya gambaran apa-apa.” 

    Saya diam sebentar, teringat dengan curahan hati seorang teman lain. Dia seorang kutu buku, melahap buku-buku posmodernisme. Buku-buku yang sampai sekarang masih cukup sulit saya pahami. Dia berkata bahwa masalah terbesar ketika di kampung halaman adalah menjaga idealisme dan menerjemahkan itu ke dalam bahasa yang dipahami orang awam. Tampaknya dia kesulitan, dan kini memilih tinggal di Yogya. 

    Barangkali itu pula salah satu alasan kenapa banyak sarjana memilih tinggal di kota. Secara psikologis, mereka tidak siap untuk kembali dan menghadapi persoalan yang begitu berbeda dari bayangannya: pengangguran, sindiran, minim akses, sendirian. 

    Masalah serupa dialami oleh teman saya yang lain. Beruntungnya dia tinggal di Bantul, dekat dengan pusat kota. Begitu dia terasing dia bisa melarikan diri ke kota. Atau cerita teman lainnya lagi yang juga tinggal di Bantul. Setiap hari cuma mendekam di rumah karena merasa tidak cocok dengan orang-orang di sekitarnya. 

    Apakah saya akan seperti itu juga? Saya tidak ingin seperti itu. 

    “Di tempatku lebih parah.” katanya,”Sudah tidak ada anak mudanya.”

    “ya, aku juga pernah dengar cerita itu dari beberapa orang teman. Di Gunung Kidul sama di Magelang. Kalaupun ada paling cuma anak SMA.”

    “Itu karena sekolah masih dekat. Di tempatku, kalau tidak merantau kerja, ya kuliah. Aku malah pernah diceritakan, ada kampung yang itu isinya cuma orang tua saja.”

    Aku berseloroh,”Kalau gitu, apa aku tinggal di Jawa aja ya, Mas? Lama-lama Jawa makin kosong. Kita bisa ngerampok tanah.”

    Kami tertawa sejenak. Ia melanjutkan,”Ini ada hubungannya dengan pusat dan pinggiran yang kita bicarakan tadi. Ada kekuatan apa yang bisa menarik orang-orang di pinggiran sampai semuanya ke kota. Seperti magnet. Invisible Hand. Seperti ada kekuatan Jin. Jin Ifrit saja tidak sekuat itu. Dulu waktu Sulaiman memerintahkan jin untuk mengangkut istana Ratu Saba’, itu riil. Ada tenaganya dan jelas yang dipindahkan. Tapi ini apa? Tidak kelihatan dan dia memindahkan semua orang.”

    Mas Fath selalu handal memainkan simbol-simbol semacam itu, menjelaskan sesuatu tanpa memerinci dengan logika.

    “Dulu aku sempat berdebat juga soal ini, Mas” tanggapku,”Apakah kita perlu tinggal di kota atau ke daerah. Menurut dia, kalau mau mengembangkan jaringan dan pemikiran ya tinggal di kota. Tapi, persoalannya, kota semakin padat. Kita akan bicara soal pengembangan daerah. Sementara kita tidak tahu apa-apa soal kondisi di daerah. Daerah tetap kosong, dan kita sebut tertinggal. Padahal kita enggan pulang ke sana.”

    “Barangkali itu salah satu alasan aku ingin pulang ke daerah. Walaupun aku belum merasa siap dengan kondisi-kondisi yang mungkin kuhadapi.” lanjutku.

    Dia berkomentar,“Persoalannya kita sadar. Kita sadar bahwa kita terasing. Kita bisa menjelaskan masalah kita dengan mencari penyebab-penyebabnya. Itu sudah modal. Masih banyak teman-teman kita lain yang nggak sadar sama sekali kalau mereka terasing. Akhirnya, ya, tetap terasing.”

    “Persoalan selanjutnya, adalah bagaimana cara mengatasinya.” sahutku

    Dia meluruskan,”Tepatnya, berapa lama kita mampu mengatasinya. Ada orang yang cepat dan ada pula yang lambat.”

    Berapa lama saya baru bisa mengatasinya? Sebulan? Dua bulan? Setahun? Dua tahun? Dia bilang, ada kekagetan saat kita pertama kali kembali muncul ke publik. Pikiran tidak mampu mengendalikan tubuh. Kita merasa salah tingkah begitu saja. Seperti yang kualami ketika tadi aku digoda. Berapa lama aku baru bisa mengatasi ini? Atau aku terlalu khawatir?

    Ah, entahlah. Saya tidak ingin berspekulasi. Tapi pemikiran itu tidak bisa kuhindari. Perbincangan-perbincangan semacam ini, entah berapa lama saya lalui. Selalu saja tidak menghasilkan resolusi dan rasa aman. Barangkali perlu menceburkan diri ke laut dulu, biar tahu bagaimana nikmatnya berenang, begitu cerita hikmah yang pernah saya baca. Bagaimana kalau saya tenggelam. Tidak adakah pilihan lain?

    ***
    Aku berusaha menangkap perbincangan kami malam itu sekenanya. Barangkali ada yang kukarang-karang juga. Tapi aku yakin aku telah mengungkapkan intinya. Malam itu, kami hidup ketika kami sibuk memikirkan hal-hal lain yang kami khawatirkan.

    Di perjalanan pulang, dalam boncengannya saya bertanya,”Mas, nggak pernah merasa sakit karena sendirian?”

    Dia tertawa,”Ya pernah, sering. Apalagi kalau ke kampus. Nggak ada yang dikenal. Terasing. Tapi ya, tadi gimana cara ngatasinya aja.” Begitu kira-kira ia menjawab.





  4. Haruskah Ritual Bertujuan?

    Monday, July 7, 2014


    Bulan puasa, sebuah perbincangan teologis. Sudah lama rasanya aku meninggalkan pembicaraan semacam itu. Dan tampaknya kau masih cukup antusias. Aku akan melatihmu lagi, dengan segala istilah rumit yang selama ini sengaja aku sembunyikan dari setiap perbincangan. Kau harus melatih memori, rasa ingin tahu, dan sikap keras kepala untuk mencari jawabanmu sendiri. Tidak boleh berhenti di sini.

  5. Anak Tidak Pernah Bersalah

    Monday, May 5, 2014


    Bila orang baru pertama kali datang, barangkali ada satu hal yang bisa diungkap mengenai anak-anak di sini. Anak-anak tidak beretika, tidak punya sopan santun kepada orang tua, itulah kesan pertama jika bertemu mereka. Kata-kata kasar bernada meremehkan biasa didengar saat masa-masa awal kami disana. Jujur, kami sempat tertekan dengan kondisi semacam ini.


  6. Pengampunan Versus Balas Dendam

    Sunday, January 19, 2014

    Do you believe in getting avenge?” kata pewawancaranya. Perempuan tua dengan rambut keriting botak di tengah kepalanya menjawab,

    Do you mean revenge?.”

    Yes,”

    Yes, i believe in revenge. I absolutely believe in revenge...i don’t believe ini forgiveness.” Kata perempuan itu.

  7. Kita memang kadang lemah, bukan berarti tak berdaya. Kita hanya bisa berusaha.
    Kita memang kadang resah, bukan berarti hati tak tenang. Kita hanya bisa berdoa.
    (Jamica, Jangan Anggap)

    Paulo Freire. Rasanya, berkali-kali saya harus mengungkapkan bahwa saya begitu mencintai pria ini. Saya merasakan ikatan emosional melalui keserupaan pengalaman-pengalaman dan harapan-harapan. Saya tidak pernah bertemu dengannya. Dia pun telah meninggal dunia. Saya hanya ‘berdialog’ dengannya melalui buku-bukunya. Setiap kali saya membaca ulang, serasa saya mendengarkan lansung suara dan emosi yang keluar darinya.

  8. Memilki Kehilangan (Pt. 4)

    Saturday, December 14, 2013

    Perlunya Kehilangan
    Kawan, lebih dari 2,5 bulan yang lalu aku membiarkan bagian akhir dari tulisan ini tidak rampung. Rampung? Apa ada yang rampung soal kehilangan? Aku bahkan tidak yakin apakah rasa kehilangan dan kehilangan sendiri akan pernah berakhir. Aku bahkan belum yakin tulisan ini akan selesai dimana. Barangkali disini atau dilain hari.

  9. Cinta tidak Boleh Memiliki (pt. 2)

    Sunday, November 3, 2013

    Kutipan dari Pedagogy of The Opressed tentang Biofili dan Nekrofili

    Pedagogy of The Opressed adalah buku Filsafat Pendidikan. Filsafat pendidikan yang membebaskan manusia agar ia dapat memenuhi fitrahnya sebagai manusia sejati. Paulo Freire, sang pengarang, meyakini bahwa manusia hanya benar-benar menjadi manusia bila dia melakukan perubahan secara terus menerus, sesuatu yang terus selalu saja dinafikkan di sepanjang sejarah kemanusiaan.

    Menurut Freire, pendidikan memiliki konstribusi besar dalam penafikkan ini. pendidikan telah menjadi alat untuk melayani kepentingan penindasan dan eksploitasi manusia. pendidikan semacam ini disebut Freire sebagai pendidikan gaya bank (banking concept of Education). Sebagai lawannya Freire menawarkan Pendidikan hadap masalah (problem posing education) yang berbasis pada dialog.

    Apa itu pendidikan gaya bank? Secara sederhana, pendidikan jenis ini merupakan pendidikan yang menganggap bahwa pendidik adalah penguasa pengetahuan, sedangkan peserta didik adalah wadah kosong yang harus diisi.

    Lalu apa hubungannya pendidikan Freire dengan cinta. Bagi Freire, pendidikan hadap masalah tidak dapat  berjalan tanpa dialog. Dialog sendiri ada syarat khususnya, salah satunya, dialog tidak dapat berlansung tanpa cinta. Cinta ini merupakan dasar untuk dialog, sekaligus dialog itu sendiri. Tapi cinta ini adalah cinta jenis khusus, bukan sembarang cinta. Cinta inilah yang dalam konsep Erich Fromm disebut dengan Biofili.

    Dalam Pedagogy of The Opressed, kata biofili dan nekrofili pertama kali ditemukan di halaman 74:

    1.      “Pendidikan gaya bank berawal dari pemahaman yang salah bahwa laki-laki dan perempuan adalah objek. Dengan demikian, pendidikan gaya bank tidak dapat mendorong perkembangan sesuatu yang disebut oleh Fromm dengan biofili, sebaliknya ia bahkan menghasilkan “nekrofili”.”

    Apa itu biofili dan nekrofili? Freire mengutip buku Erich Fromm yang berjudul The Heart of Man. Dia mengutip panjang mengenai nekrofili, tapi hanya sangat sedikit mengenai biofili (bahkan hampir tidak terdeteksi). Barangkali karena memang filsafat pendidikannya didasarkan pada biofili, jadi dia tidak menyinggung secara panjang lebar soal konsep tersebut.

    "Sementara kehidupan dicirikan dengan pertumbuhan dalam pola yang terstruktur dan fungsional, orang nekrofilis mencintai apapun yang tidak tumbuh, semua yang mekanis. Orang nekrofilis didorong oleh keinginan untuk mengubah sesuatu yang organik menjadi tidak organik, memandang kehidupan secara mekanis, seolah-olah semua makhluk hidup adalah benda mati...yang diperhitungkan adalah memori, bukan pengalaman, kepemilikan, bukan keberadaan. Orang nekrofilis hanya bisa berhubungan dengan objek (apakah itu setangkai bunga atau seseorang) jika ia memilikinya; oleh karena itu, ancaman bagi kepemilikannya berarti ancaman terhadap dirinya sendiri; jika ia kehilangan miliknya, ia kehilangan kontak dengan dunia....dia mencintai kendali, dan dengan tindakan mengendalikan ini dia membunuh kehidupan."

    Lebih lanjut, Freire mengatakan bahwa nekrofili atau cinta kematian lah yang membuat penindasan terus langgeng. Menurutnya pula, pendidikan gaya bank juga didasarkan pada nekrofili.

    2.       Penindasan (yang merupakan kendali yang berlebihan) bersifat nekrofilis; ia terus dilanggengkan oleh cinta kematian, bukan cinta kehidupan. Pendidikan gaya bank, sebagai pendidikan yang melayani kepentingan penindasan, juga bersifat nekrofilis. Pendidikan ini mengubah siswa menjadi objek yang menerima berdasarkan pandangan yang mekanistis, statis, naturalistis, dan terspasialisasi. Pendidikan ini berusaha untuk mengendalikan pemikiran dan tindakan, mengarahkan laki-laki dan perempuan untuk menyesuaikan dirinya dengan dunia, dan menghambat kekuatan kreatif mereka.
    Di bab 4, freire menyinggung sedikit lagi mengenai biofili dan nekrofili. Kali ini ia menghubungkannya dengna hubungan orang tua dan anak, kondisi sosial di sekitar, dan sekolah. Menurutnya nekrofili yang melanggengkan penindasan dan begitu juga sebaliknya. Penindasan dan nekrofili menjadi langgeng karena adanya cinta segitiga antara rumah, sekolah, dan kondisi sosial.

    3.  Hubungan orangtua dan anak di rumah biasanya mencerminkan kondisi kultural objektif struktur sosial disekitarnya. Jika kondisi sosial yang merasuk ke dalam rumah bersifat otoriter, kaku, dan mendominasi, maka iklim penindasan akan meningkat di rumah.


    4.  Seiring dengan meningkatnya intensitas hubungan otoriter diantara orang tua dan anak ini, internalisasi kekuasaan paternal juga meningkat pada anak di masa kecil mereka. (154)

    5.    Saat membahas masalah nekrofili dan biofili (dengan kejernihan pemikirannya yang seperti biasa), Fromm menganalisa kondisi objektif yang menghasilkan berbagai kondisi lain, apakah itu di dirumah (hubungan orang tua dan anak dalam iklim ketidak acuhan dan penindasan atau dalam iklim cinta dan kebebasan), atau dalam konteks sosiokultural. Jika anak-anak dibesarkan dalam atmosfer penindasan dan tanpa cinta, anak-anak ini memiliki potensi menjadi frustasi. Pada masa muda mereka, mereka tidak akan mampu melakukan pemberontakan yang otentik atau mereka akan benar-benar menjadi tidak acuh, terasing dari kenyataan karena kekuasaan-kekuasaan dan mitos-mitos yang telah ‘membentuk’ mereka. Atau, mereka bisa saja terlibat dalam berbagai macam tindakan-tindakan yang merusak. (155)

    6.   Atmosfer di rumah ini terjadi juga di sekolah, dimana para siswa dengan segera akan menemukan bahwa (sama seperti di rumah) untuk mencapai beberapa kepuasan mereka harus beradaptasi dengan aturan yang telah ditentukan dari atas. Salah satu aturan itu adalah untuk tidak berpikir.

    Sebenarnya, orang-orang yang ingin memahami Freire, perlu menghancurkan cara pandangnya yang selama ini ia anut tentang pendidikan. Pendidikan tidak saja berhubungan dengan sekolah. Pendidikan bisa terjadi dimana saja. Interaksi apapun yang memungkinkan terjadinya perubahan pada kesadaran bisa disebut dengan pendidikan. Jadi, pendidikan itu bisa berarti hubungan antara pemerintah dengan rakyat, guru dengan siswa, rektor dengan dosen, dosen dengan mahasiswa, laki-laki dan perempuan, orang tua dan anak, dan sebagainya.

    Dan hubungan apapun pasti melibatkan kekuasaan. Itu artinya, cinta itu politis.  Hanya ada 2 jenis hubungan dalam hubungannya dengan kekuasaan: hubungan otoriter atau hubungan egaliter. Hubungan otoriter berkaitan dengan nekrofili atau cinta kematian, sedangkan hubungan egaliter berhubungan dengan biofili atau cinta kehidupan.

    Di bagian berikutnya saya akan membahas sedikit lagi mengenai kata nekrofili dan biofili, dan mengapa cinta tidak harus memiliki.

    Glosarium:
    • Dialog: salah satu konsep inti Freire. Menurutnya dialog adalah proses yang terjadi diantara manusia, dengan menggunakan kata, ditengahi oleh dunia, untuk menamakan dunia. Dialog hanya dapat terjadi dengan beberapa syarat diantaranya adanya cinta, kerendahhatian, kekritisan, kesetaraan, kepercayaan kepada orang lain, dan harapan.
    • Struktur sosial: hubungan-hubungan yang terjadi di lingkungan masyarakat, misalnya ada orang kaya ada orang miskin, ada pejabat ada rakyat jelata, dan sebagainya.
    • Kekuasaan paternal à berhubungan dengan paternalistik, yaitu menganggap bahwa hanya jiwa kebapakan (tepatnya maskulinitas) yang layak digunakan dalam memimpin.
    • Kekuasaan otoriter à berhubungan dengan otoriterianisme, yaitu menganggap bahwa orang lain hanya mau melakukan sesuatu apabila ia diperintah dan dikendalikan.
    • Kondisi objektif: kondisi apa adanya. Kondisi ini dapat dicari fakta-faktanya melalui panca indera, dan semua orang tidak akan berbeda dalam melihatnya.
    • Kekuasaan egaliter, lawan dari kekuasaan otoriter: menganggap bahwa orang lain mampu melakukan sesuatu bila ia dipercaya dan diberi kesempatan untuk berekspresi.
    • Pemberontakan yang otentik (authentic rebellion): barangkali berhubungan dengan karakter anak muda yang suka memberontak. Menurut saya, pemberontakan otentik berhubungan dengan sikap memberontak yang kreatif dan positif.


    Referensi:
    Pedagogy of The Opressed, Paulo Freire, 2000, Continuum international Publishing.
    Selanjutnya:
    Keharusan memiliki adalah karakter khas Cinta kematian

  10. Prolog
    Cinta tidak harus memiliki. Kayak lirik lagu saja, hehe. Tapi yakinlah, pembahasan mengenai pernyataan ini sama sekali berbeda dengan seluruh lirik lagu yang pernah menyatakan bahwa cinta tidak harus memiliki. Barangkali, tidak satupun dari yang akan saya bahas disini akan disinggung di lagu-lagu cinta manapun. Hehe

    Saya tidak sepakat bahwa cinta kepada manusia harus memiliki, artinya memiliki sesuatu seperti seseorang memiliki benda. Kalau kita percaya bahwa diri kita sendiri mampu menentukan masa depan kita, konsekuensinya orang lain pun bisa. Kalau kita percaya bahwa seseorang memiliki kebebasan untuk menentukan arah hidupnya, berarti orang lain juga bisa. Dengan demikian, kita tidak mungkin bisa memiliki orang lain, karena kita sama-sama bebas, sama-sama mampu menentukan masa depan kita sendiri.

    Kepemilikan adalah cinta pada kematian atau cinta pada sesuatu yang mati. Erich Fromm menyebutnya dengan istilah nekrofili. Inilah yang akan saya singgung di artikel bersambung ini. sengaja dibuat bersambung, agar tidak terlalu panjang.

    Pada awalnya saya ingin menjelaskan keberpihakan saya pada pandangan bahwa cinta tidak harus memiliki melalui sebuah cerita fiktif, tapi terhenti di tengah jalan. yah, saya memang tipikal orang yang mudah ngos-ngosan kalau menulis fiksi yang cukup panjang. Sepertinya saya tidak cocok menjadi penulis fiksi.

    Kemarin, tiba-tiba saja saya ingin menulis artikel tentang cinta, dan jadilah tulisan berjudul cinta yang membebaskan. Ternyata, tulisan itu justru semakin membuat saya penasaran (hehe, yang penasaran malah penulisnya, bukan pembaca). Saya tertarik melakukan sedikit riset kecil setelah menulis artikel tersebut. Saya mencari beberapa referensi lebih lanjut apa sih sebenarnya konsep Erich Fromm mengenai biofili dan nekrofili itu. Untuk itu saya memulai dari tempat pertama kali saya menemukan istilah ini, yaitu di buku ‘Pegagogy of The Opressed’ atau Pedagogi kaum tertindas (PKT). Saya menemukan sedikit penjelasan mengenai nekrofili dan biofili ini di halaman 77-78 dan 154-155.
    Sebenarnya di dalam buku ini dia lebih banyak menjelaskan pengertian nekrofili. Barangkali karena buku ini adalah sebuah usaha untuk mendukung biofili makanya Freire tidak menjelaskan panjang lebar tentang istilah biofili.

    Saya akan memberikan kutipan-kutipan lansung dan menyeluruh dari halaman-halaman tersebut. Kutipan ini saya terjemahkan lansung dari versi bahasa Inggrisnya. Ada beberapa bagian terjemahan yang belum bisa saya terjemahkan dengan baik, jadi mohon maaf kalau ada yang agak janggal.

    Menurut Prof. Google, Konsep biofili dan nekrofili disinggung oleh Erich Fromm dalam 2 buku, The Heart of Man dan The Anatomy of Human Destructiveness saya hanya dapat menemukan buku The Anatomy of Human Destructiveness istilah biofili kemudian digunakan lagi oleh sir Edward Wilson dalam buku yang berjudul Biophilia. Saya tidak akan menyinggung tokoh terakhir ini. Pemikiran Erich Fromm sendiripun hanya akan saya singgung berdasarkan kerangka pemahaman saya mengenai PKT.


    Untuk bahasan selanjutnya, saya akan menuliskan kutipan-kutipan dari halaman tersebut secara utuh sebelum nanti akan saya coba singgung satu demi satu.

    Berikutnya: