(seperti kata Gandhi, "kepada para paria dan kaum perempuan")
-
Masih
Sunday, December 22, 2013
-mamakaku masih tapak kecilsewaktu dulu pernah lari dari delikanmudengan tulang punggung retakberjuang tegaksebelum tidur, masih kulagukan nina boboyang kau ajarkan‘tuk kenangkan dongeng lelakiyang menjelma pada separuh tubuhku,setelah itu padanya ‘kan kusuguhkanbunga yang kau tanamkan di separuh tubuhku lagigrafiti mimpimu masih tercoret di dinding pikirantak pernah rapuh, parau, dan keriput seperti tubuhmutentang anak yang tak lupa guna tangan dan kakinyapada duri tumbuh di genangan air mata tepian jalanMasih.
(seperti kata Gandhi, "kepada para paria dan kaum perempuan")aku masih tahu rindu apayang harus kuadukan di buku hariandan kuceritakan pada layar komputerkuitu seperti tumis kangkung dan sambal tempeaku masih tahu marah apayang harus kusampaikan pada kafandan katanya ingin kau jadikan selimut tidurmuitu seperti saat mereka ingin jadikan rumah untuk penjara-kuburanbila kau resahbengkel sepeda onthel di pojok barat sawah,warung sederhana di samping rumah sakit swasta,dan perempuan tua di emperan Gardena,aku selalu mencintainyaaku pun masih orang asingyang tak berarus laju kendaraan di jalur satu arahjangan lagi air mata, aku masih pasti jalan pulang:Rahimmu
Yogyakarta, 22 Desember 2013Posted by lain-lain at 3:45 AM | Labels: puisi | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Gitarmu, Teman
Monday, September 23, 2013
Jemarimu pernah lincahnyanyikan kemarahan; kesenangansebelum retak oleh hantamandalam,rumah bersama runtuh seketikadan melodi berhenti, kau tak bersuarabas kupetikkanimbangi jemari kini senduceritakan seorang perempuanputus asa, begitu kau jugasebuah kisah berbeda belum dilupaseorang perempuan pernah tertawapadanya, kau begitu terlenalalu lagumu terputus di batas senjagitarmu teman, lagu perkabungan di D minorseperti Padmasana menyayat rasamestinya kuburan itu berbunga sejak lamaselama ingatan mencobamencari peralihan:perempuan dengan pesan singkat di shalat malamtidak cukup sepadan diperjuangkan?gitarmu teman, aku dengarkanbas kupetikkan,menyisipkan ritme ke dalam alunanagar permainanmu terus bertahansebab rasamu bukan sepotong roti, bukan?gitarmu teman, itu harapankemana hendak kau lemparkansedang perempuan yang terpenjaratak butuh lebih banyak air mataPosted by lain-lain at 2:05 PM | Labels: puisi | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Aku ingin Ingat
Friday, August 30, 2013
Aku ingin ingat, sungguhSaat di bawah terik menyengatTunggui ibu pulang membawa makanansegenggam nasi dengan sepotong kecil tempeia suapkan ke mulutku berhamburan di pipiTersenyum singkat ia memandangJauh dalam lamunan, bergumam“Hidup seperti sumbu menyala,percikan kembang api yang hilang seketika.”Perempuan yang sendirianSampai di ujung jalan melambai tanganKabut mengaburkan titik pandangDi atap rumah muncul awan legamIa tak lagi pulang membawa makananAku berduka sebagaimanaKompor yang enggan menyalaPiring-piring kotor dan makanan sisaDi lantai tempat mencuciPakaianku tak digantiAku ingin ingat, sungguhSaat perempuan yang sendirian ituMenyulam anaknya hingga kuat berkawanDengan kehidupan, seperti-Sarung tangan yang selalu ia pasangkanSaat malam aku kedinginanYogya, Mei 2013Posted by lain-lain at 3:28 AM | Labels: puisi | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Insomnia Rasa
Monday, July 1, 2013
seakan ia akan mengetuk pintu kamarmu,jantungmu berdebarseakan ia meneliti gerak-gerikmu,engkau gelisahdia datang sesuka-sukameremas jantungmenguras kantung air mataengkau terjagamimpi indah jadi bencanamalam memanjangangin menggodamembisikimu suaranyamenyusup, menggelitik imajinasituts piano berbunyi dikepalamengajakmu berdansakamar gelap, dinding menjadi kanvassiluetnya menjejak-jejakmembayang-bayang di sepanjang garis fajarhingga ke barat cakrawalaseperti grafiti yang silih bergantimenutupi dinding kotasetelah itu pertemuanmu dengan bulanmembangkitkan percakapan rahasiatentang kesadaran yang telah hilangsejak awal pertemuanmenunggu, menjadikan kamarmu belantaraengkau sunyi dalam keramaianharapan mencekam waktuseandainya bisa, kau lipat ruang dan kau pandangia seperti film kesukaankau rekam setiap incinya dalam tulisansekedar mengingatkan betapa ia adalah sejarahyang mungkin nanti akan kau ceritakanketika langkah telah lelah menelusuri desahPosted by lain-lain at 11:03 PM | Labels: puisi | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Pada Sebuah Hujan
Tuesday, May 21, 2013
titik-titik air berbarismenjadi rangkaian not balok di atas lembar notasimulanya jengah, lalu bergerak mengikuti irama.hujan turun seperti tarian para pecintadebu-debu basah menempel di kaki celanadan kait terkoyak di tepi telagatapi kunang-kunang bercahayaada tetes yang lebih bening di genangan jalantangisan pohon saat keangkuhan luruh dari dedaunankarangan bunga mekar dan berakarmenjalar dari nadi hingga ke atap, pintu, dan jendeladi depan – tubuh kuyup meratapi ruh mabuk di dalamtamu hening menyusup, membimbingkan kredo baruPosted by lain-lain at 7:09 PM | Labels: puisi | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
INSOMNIA MATA PADA MATA
Saturday, April 27, 2013
(1)Matamu mengingatkanku pada sesuatu yang purba. Seperti fosil bawah tanah atau mungkin mumi piramida, mengundang pencarian pada manuskrip-manuskrip tua yang akan kutemukan entah dimana.(2)Tiang malam digelayuti harapan dari mimpi kanak-kanak terlelap, aku terjaga, kehilangan kacamata. Seorang sahabat menemani hingga dini hari, katanya, matamu itu keriangan yang tak lagi sendiri. Aku harus sedia menelan sunyi.(3)Bulan bersemu cemburu saat jangkrik bernyanyi untukku. Terpikir menghapus malam dari daftar waktu atau mengawetkannya di jurnal harianku. Kutitipkan kantuk pada kelelawar biar ia dapat rehat barang semalam. Lalu matamu kembali, memutus batas negara. Kuterbangkan layang-layangku ke angkasa, memandanginya, sembari menghitung jarak antara kebodohanku dan kecantikanmu.(4)Kamarku menjadi ruang dansa gelisah dengan alunan piano nada barok di kepala. Kusematkan pada tidurmu sedikit tanya dan rencana. Semoga matamu menjawab apa yang ia suka, meski akhirnya pagi tidak pernah ada.Posted by lain-lain at 4:13 AM | Labels: puisi | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |