| Punyanya www.patheos.com |
Pasif agresif: Sekedar contoh
Contoh tiga:
Entah karena apa, Rustam merasa tidak cocok dengan Efendi. Efendi adalah seorang mantan tentara yang menguasai bela diri. Tidak mungkin Rustam mampu melawan. Rustam kemudian menjelek-jelekkan Efendi setiap kali dia bertemu orang lain untuk meningkatkan sentimen negatif orang lain terhadap Efendi.
Kebetulan Rustam mendapat banyak dukungan. Suatu hari dia membawa puluhan orang ke rumah Efendi dan mengusir Efendi dari rumahnya.
Contoh empat:
Para anggota legislatif dan calon pemimpin pemerintahan biasanya selalu banyak berjanji saat Pemilu, tapi ketika terpilih malah mangkir. Setiap kali ditanyai, selalu menjawab,”Mohon bersabar, semuanya sedang dalam proses”
Contoh kelima:
Orang tertib berlalu lintas bila ada petugas, jika tidak lampu merah pun tidak kelihatan.
Merasa Familiar?: That’s Passive-Agressive!
Saya tumbuh sebagai seorang pasif agresif. Banyak orang juga begitu. Pasif agresif merupakan sebuah mekanisme pertahanan diri sekaligus gaya berkomunikasi. Cara ini terutama dimanfaatkan saat kita merasa tidak berdaya, namun tidak ingin patuh. Dari pada harus berhadapan dengan konflik terbuka yang bisa mengancam diri, lebih baik diam tapi mencari cara untuk membalikkan keadaan. Jika keadaan tidak berbalik, ia tidak akan rugi apapun.
Para pakar psikologi menganggap pasif agresif sebagai gangguan kejiwaan, dan tentu saja, sebuah penyakit sosial. Saya sendiri tidak menganggap pasif agresif selalu buruk. Tapi coba pikir, berapa orang harus stres dan masuk rumah sakit jiwa karena sikap masyarakat terhadap para calon legislatif pada contoh di atas. Berapa banyak orang harus menderita karena janji-janji kosong para pemimpin?
Pasif agresif bisa benar-benar merusak organisasi. Saya menghadapi banyak kasus seperti ini sewaktu masih aktif di organisasi mahasiswa dulu. Teman-teman ‘seperjuangan’ kerap menyetujui sesuatu, ternyata di belakang buat kesepakatan lain dengan orang lain. Teman-teman kerap menyetujui sebuah program, tapi saat diminta bekerja dan bertanggung jawab, hilang entah kemana.
Orang pasif agresif menunjukkan sikap pasif ketika berhadapan dengan orang lain, seperti tidak mau membantah, selalu mengiyakan, atau patuh. Namun dia menyimpan karakter agresif di dalam. Sikap-sikap yang tampak seperti: menghindari orang yang tidak disukai, menjelek-jelekkan di belakang, menunda atau mengerjakan sebuah pekerjaan yang diterima bila tidak suka. Orang pasif agresif berpotensi menjadi agresif saat dia memiliki kesempatan. Mau contoh: pemusnahan anggota PKI 1965 dan penyerangan etnis Cina 1998. Mengerikan bukan?
Bagaimana kita menjadi pasif agresif
Keadaan itu tidak hanya ada di rumah, namun juga di masyarakat. Masyarakat kita adalah masyarakat hierarkis, bertingkat-tingkat. Masih tinggi penghormatan terhadap orang berstatus sosial tinggi, kaya, berposisi tinggi, dan orang tua. Kita bahkan diajarkan: jangan pernah melawan mereka. Sebagian besar orang, menerima keadaannya dan menjadi pasif. Sebagian lain, seperti saya, yang menolak tunduk, menjadi pasif agresif.
Pasif agresif merupakan gaya berkomunikasi yang buruk. Kekhawatiran kita dengan konflik yang benar-benar bisa merusak secara emosional maupun fisik, membuat kita memilih berdiam atau menarik diri tanpa harus mengikuti sesuatu. Saya kira, saya masih beruntung. Saya menyadari karakter pasif agresif saya, sehingga bisa mengendalikannya. Sebagian orang lain tidak tahu tapi terbiasa dengannya. Dia tidak sadar telah merusak banyak hal, tapi tetap merasa wajar.
Ungkapan mengalah untuk menang barangkali muncul dari pengalaman-pengalaman nyata berhadapan dengan tatanan sosial hierarkis, otoriter, feodal, seperti yang masih kita hadapi sampai saat ini. Sepanjang hari kita masih menghadapi orang-orang berkuasa yang dengan kekuasaannya berpotensi berbuat seenak jidat. Apa yang terjadi bila kita melawan otoritas, orang-orang berkuasa? Kita akan disingkirkan. Para mahasiswa, bersiap-siaplah mendapat nilai E dan mengulang 3 tahun berturut-turut dengan dosen yang sama bila protes terhadapnya. Para karyawan bersiap-siaplah dipecat bila protes pada atasan. Bersiap-siaplah disingkirkan, dijatuhkan, dipojokkan.