Draft tulisan bertumpuk-tumpuk untuk diselesaikan. Outline demi
outline telah dipersiapkan, tinggal dikembangkan. Saya hanya memandanginya,
terlalu lelah untuk berpikir. Tubuh pun tidak seperti dulu lagi, saat saya bisa
memaksanya beraktifitas sekalipun dia tak kuat. Tubuh telah mendapatkan
kuasanya. Ini seperti sebuah kudeta, seperti saat diktator dijatuhkan dan tak lagi bisa
berbuat semaunya.
Saya mulai merasa khawatir, teringat sebuah cerpen yang
pernah dibaca bertahun lalu. Suatu hari nanti, tulisanmu akan menuntutmu. Mengapa
meninggalkannya sebelum dilahirkan. Suatu hari nanti tulisanmu akan
menghantuimu, karena telah membiarkannya mati sebelum ia diselesaikan.
Tulisan adalah anak yang dilahirkan dari rahim imajinasi melalui
proses persalinan kreatif. Mereka adalah anak-anak yang hidup dan berkembang
pada zamannya. Mereka punya masa depannya sendiri. “Mereka adalah anak-anak
spiritual saya”, kata Pramoedya.
Dan saya belum mampu begitu. Saya terlalu sering mengaborsi
tulisan-tulisan sendiri. Membiarkan mereka bergelimpangan di folder-folder
komputer. Lebih parah, membiarkan mereka bertumpuk-tumpuk di lembaran-lembaran
lalu mengilokannya pada penadah kertas.
Apakah itu sebuah kekejaman? Saya menganggapnya kekejaman. Tapi
saya terlalu sering menoleransi kekejaman sendiri. Barangkali karena keyakinan
saya tidak sekuat Pram atau penulis lainnya, penulis-penulis yang bahkan berani terus
menulis penjara, seperti Tan Malaka, Gramsci, Buya Hamka, atau Sayyid Quthb.
Barangkali juga belum ada yang protes dengan kekejaman saya. tulisan-tulisan saya seperti janin yang tidak pernah berontak. Yah, tidak akan ada yang pernah berontak jika dia belum pernah dilahirkan.
Barangkali juga belum ada yang protes dengan kekejaman saya. tulisan-tulisan saya seperti janin yang tidak pernah berontak. Yah, tidak akan ada yang pernah berontak jika dia belum pernah dilahirkan.
Tulisan seperti anakmu. Bila kau lahirkan, ia bisa menjadi
pemberontak. Tulisanmu akan menyulitkanmu seperti kala anak-anakmu memasuki
masa pubertas. Ia bisa menyulitkanmu selamanya. Dan dia bisa menyelamatkanmu,
tergantung zaman berkehendak apa.
Namun tulisan tetaplah bukan anak manusia. ia tidak pernah mati.
Semua tulisan akan abadi selama tidak ada yang menghancurkannya seperti
kehancuran besar ilmu pengetahuan saat Timurleng menghancurkan perpustakaan
kota Baghdad di abad ke 12. Tulisan menjadi saksi sejarah sekaligus sejarah itu
sendiri. Tulisanlah yang menentukan seseorang atau sebuah masa akan
dikenang atau tidak.
Motivasinya begitu. Terlepas entah apa yang akan dilakukan
tulisan itu kepada saya nantinya. Entah siapa yang akan membaca. Terlepas
ia tidak pernah dipedulikan. Tidak ada yang boleh diabaikan kalau ia pantas
untuk diselesaikan. Sebab menulis bukanlah decak kagum pembaca, tapi rasa
cinta.
Jadi, saya kembali memandangi satu persatu draft yang tidak
pernah saya selesaikan tersebut. Mencoba memperbaiki, menambah sedikit-sedikit.
Dan kembali belajar menggunakan kertas dan pena. Mencoba untuk tidak mengulangi
kekejaman yang sama.
0 comments:
Post a Comment