Rss Feed
  1. Tentang Aku dan Tulisanku

    Saturday, November 9, 2013

    Draft tulisan bertumpuk-tumpuk untuk diselesaikan. Outline demi outline telah dipersiapkan, tinggal dikembangkan. Saya hanya memandanginya, terlalu lelah untuk berpikir. Tubuh pun tidak seperti dulu lagi, saat saya bisa memaksanya beraktifitas sekalipun dia tak kuat. Tubuh telah mendapatkan kuasanya. Ini seperti sebuah kudeta, seperti saat diktator dijatuhkan dan tak lagi bisa berbuat semaunya.

    Saya mulai merasa khawatir, teringat sebuah cerpen yang pernah dibaca bertahun lalu. Suatu hari nanti, tulisanmu akan menuntutmu. Mengapa meninggalkannya sebelum dilahirkan. Suatu hari nanti tulisanmu akan menghantuimu, karena telah membiarkannya mati sebelum ia diselesaikan.

    Tulisan adalah anak yang dilahirkan dari rahim imajinasi melalui proses persalinan kreatif. Mereka adalah anak-anak yang hidup dan berkembang pada zamannya. Mereka punya masa depannya sendiri. “Mereka adalah anak-anak spiritual saya”, kata Pramoedya.

    Dan saya belum mampu begitu. Saya terlalu sering mengaborsi tulisan-tulisan sendiri. Membiarkan mereka bergelimpangan di folder-folder komputer. Lebih parah, membiarkan mereka bertumpuk-tumpuk di lembaran-lembaran lalu mengilokannya pada penadah kertas.

    Apakah itu sebuah kekejaman? Saya menganggapnya kekejaman. Tapi saya terlalu sering menoleransi kekejaman sendiri. Barangkali karena keyakinan saya tidak sekuat Pram atau penulis lainnya, penulis-penulis yang bahkan berani terus menulis penjara, seperti Tan Malaka, Gramsci, Buya Hamka, atau Sayyid Quthb.

    Barangkali juga belum ada yang protes dengan kekejaman saya. tulisan-tulisan saya seperti janin yang tidak pernah berontak. Yah, tidak akan ada yang pernah berontak jika dia belum pernah dilahirkan.

    Tulisan seperti anakmu. Bila kau lahirkan, ia bisa menjadi pemberontak. Tulisanmu akan menyulitkanmu seperti kala anak-anakmu memasuki masa pubertas. Ia bisa menyulitkanmu selamanya. Dan dia bisa menyelamatkanmu, tergantung zaman berkehendak apa.

    Namun tulisan tetaplah bukan anak manusia. ia tidak pernah mati. Semua tulisan akan abadi selama tidak ada yang menghancurkannya seperti kehancuran besar ilmu pengetahuan saat Timurleng menghancurkan perpustakaan kota Baghdad di abad ke 12. Tulisan menjadi saksi sejarah sekaligus sejarah itu sendiri. Tulisanlah yang menentukan seseorang atau sebuah masa akan dikenang atau tidak.


    Motivasinya begitu. Terlepas entah apa yang akan dilakukan tulisan itu kepada saya nantinya. Entah siapa yang akan membaca. Terlepas ia tidak pernah dipedulikan. Tidak ada yang boleh diabaikan kalau ia pantas untuk diselesaikan. Sebab menulis bukanlah decak kagum pembaca, tapi rasa cinta.

    Jadi, saya kembali memandangi satu persatu draft yang tidak pernah saya selesaikan tersebut. Mencoba memperbaiki, menambah sedikit-sedikit. Dan kembali belajar menggunakan kertas dan pena. Mencoba untuk tidak mengulangi kekejaman yang sama. 

  2. 0 comments:

    Post a Comment