- Hormati ruang privat (bola hamster)
- Energi mereka terbatas
- Jangan tuntut mereka memberikan energi padamu kalau memang benar-benar tidak butuh
- Jangan anggap diam sebagai hinaan. Sama sekali bukan.
- Orang-orang introvert juga merasa kesepian.
-
Bagaimana Berhadapan Dengan Si Introvert
Wednesday, April 22, 2015
Punya teman yang nggak banyak omong dan penyendiri? Saking penyendirinya, dia bisa sibuk sendiri dan tidak bicara apapun, padahal orang lain sedang ngobrol sambil ngakak. Kadang dia hanya mengamati dari awal sampai akhir, dan tidak akan bicara kecuali sesekali.Teman-teman saya pasti punya setidaknya satu orang, Saya!. :-DBahasa Psikologinya, INTROVERSI. Orangnya disebut INTROVERT. Barangkali seperti saya, beberapa orang akan memanggil orang-orang semacam ini aneh. Ya, aneh, kata itu nggak asing lagi sampai saya terbiasa dengannya. Ada juga yang bilang mereka kurang suka bergaul, kurang peduli, sombong.Nggak kok, semua itu cuma salah paham.Mereka demikian peduli, bahkan barangkali lebih dari yang Kamu kira (muji diri sendiri). Mereka hanya butuh waktu untuk membangun hubungan, karena mereka nggak pernah ngganggap remeh hubungan sosial dengan siapapun (weh, muji diri lagi. Hehe).Kalau kamu punya teman, murid, adik, kakak, orang tua, tetangga, pacar, istri, atau suami seperti saya, berarti perlu baca ini. Ini saya minjam dari sebuah postingan di situsnya 9GAG disini. Semacam 101 untuk memahami introversi. Menurut saya, ‘tutorial’ singkat ini sudah mewakili.Apa Itu Introversi?Hidup di bola hamster seukuran manusiaOrang-orang introvert hidup di bola hamster seukuran manusia. Kira-kira begitu gambarannya. Karakter utama introvert sejati, berbeda dengan seseorang yang menarik diri, adalah bagaimana cara mereka mendapatkan energi.Ekstrovert: menyerap energiOrang-orang ekstrovert mengumpulkan energi dari sekitarnya. Mereka menyerap ‘getaran baik’ dari orang-orang di sekitar mereka. Karena itu, mereka memerlukan banyak interaksi sosial.Introvert: memberi energiOrang-orang introvert menghasilkan sendiri energinya, bukannya mengambil dari orang lain. Mereka justru memberikan energi kepada orang lain melalui kontak sosial. Ini berarti kebanyakan interaksi sosial secara alami membuat mereka kehabisan energi dan mereka butuh waktu untuk mengisinya kembali.Energi terbatasKarena energi ini adalah sebuah sumber terbatas, mereka cenderung melihat orang-orang ekstrovert sebagai predator mengerikan yang ingin mencuri energi mereka. Itulah kenapa mereka memiliki ruang privat bernama bola hamster itu.[PS: Saya kehilangan seorang teman penting karena kasus ini. ;-( ]Bagaimana Berinteraksi Dengan MerekaHanya karena seseorang introvert bukan berarti mereka tidak menyukai kebersamaan. Hanya saja mereka harus ‘membayar mahal’ (dengan energinya) untuk berinteraksi dan mereka tidak ingin menghabiskannya untuk sesuatu yang mengganggu. Dengan kata lain, sia-sia.Ini yang bisa dilakukan:Sapa mereka, sopan dan santai, tunjukkan Kamu mengakui dan menerima kehadiran mereka. Penting bagi orang introvert merasa diterima. Mereka tidak ingin mengeluarkan energi berharga mereka untuk seseorang yang tidak menginginkan keberadaan mereka. Kalau ada kabar menarik/penting untuk disampaikan, sampaikan. Yang penting jangan sampai mengajak mereka bergosip.Kemudian kembalilah mengerjakan apapun yang Kamu kerjakan sebelumnya. Sekarang orang-orang introvert sudah tahu kalau Kamu bersahabat dan terbuka dengan interaksi namun tidak akan mengharuskan mereka mengeluarkan energi jika mereka merasa tidak perlu melakukannya.Dan.. Ta Da...Kamu sudah memulai awal yang baik. :-DYang perlu diingat:
Sumbernya lihat di sini ya... How to Interact With Introvert
Posted by lain-lain at 12:50 AM | 1 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Pisau Bermata Dua Itu Bernama Pengetahuan dan Kepemimpinan Pendidik
Monday, February 23, 2015
Ahad ini sebenarnya saya tidak ingin berangkat. Tapi tidak enak juga rasanya. Seperti merindukan seseorang, tidak ingin bertemu tapi kalau tidak bertemu rasanya seperti kehilangan sesuatu, he...bagaimanapun beruntung saya berangkat. Ada kemajuan baru dalam pemahaman saya atas anak-anak.Tanpa persiapan apa-apa saya berangkat. Sampai di sana, Masjid tempat Kami biasa berkumpul kosong. Saya menunggu sekitar seperempat jam sampai anak-anak datang setelah dipanggil oleh pembina mereka.Karena masjid dipakai oleh pertemuan lain, Kami pindah ke saung. Saya membuka netbook, bersiap dengan rencana spontan, menonton film. Beberapa anak di bawah kelas 3 SD ikut nimbrung. Terjadi pertengkaran kecil antara Putri, binaan saya, dengan dua orang anak tersebut. Beberapa anak binaan saya juga ikut nimbrung, memerintahkan kedua anak pergi dari saung, hingga salah satunya menangis. Saya bilang tidak apa-apa. Tapi suasana tidak juga reda.Seorang anak lain yang lebih besar datang membantu saya mengendalikan keadaan. Namanya M. Syu’aib, saya kenal nama itu setelah sempat berbincang sesaat setelah pertemuan selesai. Syu’aib meminta anak-anak selain binaan saya keluar dari saung.Setelah lebih terkendali, saya melihat Fahri di tengah anak-anak. Dia baru saja minta ijin potong rambut ke saya. Saya telah mengijinkan. Rupanya, ibu pembinanya meminta ia ikut pertemuan dulu. Saya batalkan rencana menonton film, sebab akan lama dan akhirnya Fahri tidak akan pergi potong rambut. Saya bilang, menonton filmnya minggu depan saja.Anak-anak setuju. Jadilah saya kembali ke model biasa, duduk melingkar membicarakan sebuah topik. Saya ajak anak-anak mendiskusikan musyawarah. Saya memang telah berencana membahas topik ini dengan arah praktis nantinya. Saya ingin mendiskusikan ulang beberapa hal terkait pertemuan, sehingga ke depannya bisa lebih terarah karena ada kesepahaman dan aturan bersama.Beberapa pertanyaan yang saya ajukan sebagai berikut:
- Pernah dengar istilah musyawarah
- Apa itu musyawarah
- Apa contoh musyawarah
- Apa saya yang ada di dalam musyawarah
- Apa yang membedakan musyawarah dengan yang lain
Semua anak mengenal musyawarah. Dulu pernah belajar kata mereka, tapi lupa. Saat saya minta mereka mencontohkan, hanya satu dari sekian contoh mereka termasuk dalam kategori musyawarah: briefing. Ada beberapa contoh lain mengarah ke sana, misalnya seorang anak mengatakan,”saat kita mengadakan sebuah acara.” Jika yang mengatakan itu mahasiswa, saya akan mudah menggiringnya pada pernyataan yang lebih tepat dengan pertanyaan yang tepat. Tapi, menghadapi komentar itu, saya malah bingung.Seperti biasa, anak-anak mulai kehilangan konsentrasi memasuki sekitar 15-20 menit pertemuan. Hah! Mereka terlalu mudah kehilangan konsentrasi. Beberapa sibuk sendiri. Sedikit saja mereka teralihkan, mereka akan seterusnya teralihkan. Tentu saja saya kebingungan, sekalipun kali ini saya bisa lebih cepat mengembalikan mereka ke topik. Tidak dengan cara kreatif sih, hanya mengatakan, “Ayo, kita fokus dulu.”Mereka bisa mengendalikan diri. Tetap saja, sudah tidak sekondusif di awal. Di luar saung juga sedang ada gotong royong dan suara bising mesin pemotong rumput. Suara saya lenyap dikalahkan suara mesin tersebut. Segera saja saya akhir pertemuan.Setelah membaca doa kafarat-ul majlis dan salam. Anak laki-laki segera keluar. Sementara anak perempuan mendekati saya. Ana menagih pena berwarna yang minggu lalu saya janjikan kepadanya. Saya pun berikan. Putri juga minta satu. Dia ambil pena berwarna hijau. Riza datang,”Eee, Kakak, saya mau pena yang warna hijau.” Putri juga ingin pena berwarna hijau. Bakal ada pertengkaran lain ini kalau saya biarkan. Saya memohon pada Putri,”Putri pena yang coklat saja, ya. Yang hijau kemarin sudah dipesan Riza.” Setelah beberapa menit merayu, mau juga Putri memberikan pena itu.Anak laki-laki juga sempat hampir merebut pena yang saya beri ke Ana. Saya tahan. Seperti perkataan kepada Putri, saya sampaikan kalau pena itu sudah dipesan. Ifa, dengan diamnya seperti biasa, tampaknya juga mau. Indikasinya, dia mendekat ke saya dan memperhatikan saksama saat saya memberikan pena ke anak-anak. Saya tanya,”Ifa belum, ya.” Dia mengangguk. Benar dugaan saya. Saya mencari-cari pena lain di tas. Tidak ada. Saya bilang minggu depan insya Allah dibawakan untuk Ifa. Dia mengangguk.Ada sedikit kemajuan hubungan saya dengan Ifa. Dia masih pendiam seperti biasa. Tapi dibandingkan ngambeknya dua minggu berturut-turut sebelumnya, kini dia lebih mudah diajak berkomunikasi. Beberapa percapakan pendek kami lakukan.Saya memang belum mampu mengosentrasikan mereka dalam waktu cukup lama saat pertemuan berlangsung. Saya menduga, ada kontradiksi dalam persepsi anak-anak mengenai pertemuan ini. Mereka mengira pembinaan ini serupa sekaligus tidak serupa dengan belajar di sekolah. Serupa karena ada struktur pertemuan dan ada topik (dalam pandangan mereka, tentu saja materi). Tidak serupa, karena mereka lebih bebas di dalam pertemuan. Keserupaan itu membuat anak-anak menjadikan saya sebagai pemangku pengetahuan di sana. Kata saya mutlak. Ketidakserupaan membuat mereka lebih bebas mencari alasan atau pergi begitu saja atau tiba-tiba mengalihkan pembicaraan: hal yang tidak mungkin mereka lakukan di sekolah. Tapi mereka masih menganggap ini seperti belajar di sekolah. Simpelnya, saya menduga pembelajaran di sekolah membosankan dan kebelummampuan saya menggunakan metode tepat membuat anak-anak segera menunjukkan kebosanan mereka.Ini baru dugaan, perlu pembuktian. Saya bisa ajukan bukti. Anak-anak lebih berkonsentrasi saat berbincang dengan saya di luar pertemuan dibandingkan saat pertemuan berlangsung. Padahal, saya menggunakan cara yang relatif serupa pada kedua situasi. Saya tetap hanya bertanya, mendengarkan, dan membawa mereka hingga menyimpulkan. Bedanya, ada struktur dan materi di dalam pertemuan.
Saya tidak memungkiri, saya lebih tahu dari mereka. Tentu saja mengenai topik yang saya kendalikan dalam pertemuan, karena dalam hal lain mereka lebih tahu dari saya, seperti pengetahuan mereka berkomunikasi sesama mereka. Saya pun tidak akan mengelak bila saya bertanggung jawab atas mereka. Ini bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, dengan itu saya bisa membawa mereka memiliki pengetahuan baru. Di sisi lain selalu ada perangkap saya menjadi terlalu dominan, sehingga akhirnya hanya menyuapkan. Saya bahkan tidak pungkiri, dengan keterbatasan pemahaman saya mengenai dunia anak, dunia mereka, sadar tidak sadar saya masih terlalu dominan menyuapkan.Anak-anak tentu saja perlu di arahkan. Tidak ada pendidikan netral, semua mengarahkan. Namun, bukan berarti anak-anak hanya perlu diam dan mendengarkan. Begitu keyakinan saya. Mereka memiliki anggapan-anggapan, jika bukan keyakinan (karena keyakinan terbentuk setelah puluhan tahun pengalaman) yang perlu didengarkan dan diuji. Kita perlu tahu apa yang mereka pikir, rasa, dan alami. Kita perlu belajar mengajak mereka belajar berpikir reflektif, menguji pengalaman secara ketat demi pengetahuan baru. Tentu saja tidak seketat mengajak orang dewasa berpikir dan tentu saja dengan cara berbeda, cara yang belum saya temukan.Apa yang menjadi kemajuan pemahaman saya adalah semakin kuatnya kemungkinan metode hadap masalah/dialogis diterapkan pada anak-anak. Saya kira ada yang sudah berhasil sebelumnya, tapi saya memang belum punya pengalaman di sana. Beberapa hipotesis yang saya bangun dan mulai terbukti adalah:Pertama, anak-anak tidak datang dari ruang vakum pengalaman. Sejak pertemuan awal anak-anak selalu mampu memberikan contoh-contoh dan jawaban-jawaban yang relevan atau kurang relevan berdasarkan pengalaman mereka. Memang, hal yang menarik perhatian saya, mereka spontan berkata tidak tahu jika merasa tidak ada pengalaman yang relevan dengan topik yang sedang dibicarakan.Kedua, anak-anak lebih tertarik membicarakan apa yang mereka tahu. sejak pertemuan pertama anak-anak akan antusias jika diajak berbicara apa yang mereka telah ketahui tentang topik. Kalau mereka bisa memberikan pengalaman yang relevan, mereka akan berebutan menjawab. Mereka juga antusias diajak berbicara mengenai hal yang mereka sukai, mereka inginkan, mereka alami, dan mereka kenal dengan baik. Problemnya, cerita mereka murni informatif sekedar memberitakan fakta, keadaan, kejadian. Informasi-informasi faktual inilah yang belum dapat saya gerakkan menuju pengetahuan baru.Saya berusaha menghormati pengetahuan, perasaaan, dan pengalaman mereka. Bukan berarti akan berhenti berputar pada pengetahuan, perasaan, dan pengalaman mereka saja. Saya harus mengajak mereka bergerak, tentu saja. Saya juga harus berhati-hati agar tidak manipulatif, seolah terlihat menghormati tapi sesungguhnya memaksa secara halus. Pisau bermata dua bernama pengetahuan dan kepemimpinan pendidik itu selalu mengancam. Dia masih melukai pertemuan yang saya pimpin ini. Namun saya yakin, saya akan semakin mahir menggunakan pisau tersebut sehingga tidak melukai siapapun.
* Ada dua anak baru lain, tapi saya lupa namanya. Ifan dan Ulfa masih belum kelihatan juga. Yoga tidak kelihatan, sudah dua pertemuan. Ridho, anak yang baru saja muncul minggu lalu, sudah menghilang lagi.Posted by lain-lain at 2:37 AM | Labels: Edukasi Anak | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Minggu gagal lainnya.Sebagaimana telah saya janjikan di pertemuan ke-4, anak-anak saya ajak bermain. Rencananya, permainan hari ini bertujuan membangun kerja sama sekaligus kesabaran mereka. Setelah searching di internet, ada beberapa permainan yang saya kira cocok dicoba: snake, human knot, traffic jam.
Ada satu syarat yang saya berlakukan dalam memilih permainan. Permainan tersebut ‘memaksa’ semua orang berpartisipasi dan tidak akan selesai bila ada yang keluar dari permainan. Ketiga permainan di atas sesuai dengan kriteria saya.Posted by lain-lain at 2:33 AM | Labels: Edukasi Anak | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Nggak Di-ponten, Om? (Saat Nilai Jadi Standar Ketuntasan)
Monday, February 9, 2015
“Ini nggak di-ponten, Om?” kata Raihan, seorang anak binaan saya, sambil menunjuk pekerjaan tulisnya. Setelah sekian lama, baru kali ini istilah ponten saya dengar kembali. Terkejut juga, rupanya masih lestari. Ponten mengacu pada nilai. Memberi ponten berarti memberi nilai. Saya tidak tahu darimana asal kata itu dan bagaimana ejaan aslinya. Saya hanya menulis berdasarkan pendengaran saja.Saya geli bercampur bingung mendengar pertanyaannya. Geli karena istilah yang ia gunakan, bingung harus merespon apa, Saya tidak pernah meniatkan pekerjaan itu sebagai tugas yang akan dinilai akhirnya. Akhirnya saya menanggapi pendek, “Buat apa?”“eh, Iyaalah. Diponten ajalah.” Katanya seraya memohon.“nggak usahlah, ya.” Kata saya sambil tersenyum.“kalo nggak ditandangani aja,”Kalau tanda tangan tidak masalah, kata saya. Anak lainnya, Riza, lebih gigih. Ia tidak puas dengan tanda tangansaja.“ini dikasih nilai lah, Kak.” Dia mengulang itu beberapa kali, sekalipun saya berusaha menolak. Tidak tahu bagaimana lagi harus menolak. Akhirnya saya menanyakan, nilai berapa yang ia inginkan. 100, jawabnya. Saya minta dia tuliskan sendiri angka tersebut di lembar kerjanya. Ia tidak mau. Akhirnya, saya tuliskan juga angka 100 di sana. Riza masih juga protes.“Dikasih tanda tangan, Kak.” Mintanya kepada saya. Kak, Om, dan Bang adalah variasi panggilan mereka pada saya dan saya tidak soal dengan itu.“Kan sudah ditanda tangani ini.” Jelas saya menunjukkan tanda tangan saya di atas lembar kerjanya.“Bukan seperti itu. Kayak gini.” Dia memberi tanda paraf yang sangat saya kenal: sebuah garis ditarik vertikal ke atas lalu dilekukkan ke kiri hingga ke kanan hampir membentuk 2/3 lingkaran, lalu ditarik miring ke kanan bawah. Kira-kira begitu dekripsinya. Saya kira sebagian besar anak-anak seusia saya juga sangat mengenal pola ini. Seolah ini adalah bukti keabsahan nilai dari guru. Tanpa paraf itu, berarti nilai tidak ada artinya, sekalipun angka 100 tertera di sana.Sebenarnya saya tidak berminat menggunakan buku tulis. Raihan dan Riza adalah beberapa anak binaan saya. Masih ada Safwan, Ifa, Via, Dina, Syams, Qori, Putri, Ulfa, Ibn Mas’ud, Ifan, Anda, dan Yoga. Semuanya masih SD, kelas 4-6 SD. Mereka anak-anak yatim yang tinggal di Darul Aitam, sebuah panti asuhan.Sejak diminta membina sebulan lalu, ini sudah pertemuan keempat. Setiap minggu satu kali pertemuan. Melihat perilaku mereka di Masjid minggu lalu, saya terpikir membahas Adab di Masjid hari ini. Buku tulis saya gunakan karena salah satu pembina mereka bertanya apakah saya memakai buku atau tidak.Saya tidak pernah terpikir mereka akan seperti bersekolah, memakai buku tulis sebagai catatan apa yang mereka dengar. Setelah pertemuan hari ini, saya semakin yakin dengan itu. Sejak awal anak-anak merayu agar tidak menggunakan buku tulis. Yoga beralasan penanya hilang lalu beralasan dia tidak bisa menulis. Syams beralasan dia akan potong rambut sehingga minta cepat-cepat diselesaikan. Sementara anak-anak perempuan jauh lebih antusias dari mereka.Di awal pertemuan, saya mengajak mereka berdiskusi tentang masjid. Saya mengajukan beberapa pertanyaan:- Apa masjid pertama yang didirikan rasulullah Muhammad SAW?
- Apa arti Masjid?
- Apa fungsi masjid?
Sejauh diskusi berjalan, anak-anak cukup antusias mencari tahu. Saya menyangka saya sudah bisa mengosentrasikan mereka ke topik. Rupanya, tidak. Setelah diskusi singkat kami, saya bagi mereka ke dalam kelompok kecil. Niatnya mencampur anak perempuan dengan laki-laki. Entah apa alasannya, anak-anak menolak. Akhirnya tidak saya campur.Saya menugaskan mereka mencari tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di dalam masjid. Secara berkelompok, silahkan bertanya kepada ustadz-ustadzah pembina mereka, atau siapa saja. Anak laki-laki tidak soal dengan tugas, tapi mencari-cari alasan agar tidak menulis. Setelah itu terjadilah apa yang saya sebutkan di awal tadi. Padahal saya ingin agar mereka mencari tahu lalu kita diskusikan bersama.Hal lain yang mendapat perhatian saya, anak-anak berkelompok tapi bekerja sendiri-sendiri. Dari empat kelompok dari 12 orang, hanya satu kelompok yang mencari bersama.Untuk keempat kalinya, saya masih gagal menjaga antusiasme anak-anak hingga akhir pertemuan. Setelah tugas mereka dinilai, beberapa orang pergi dan tidak kembali. Alasannya bermain bola dan memangkas rambut. Yang tersisa Dina, Ifa, Via, dan Putri mengobrol dengan saya. Entah bagaimana, saya lebih mudah mengobrol dengan anak-anak daripada orang dewasa. Sekali mereka diberi kesempatan berbicara, mereka tidak akan berhenti.Keempat gadis cilik ini menceritakan film-film yang mereka tonton tadi malam sehingga mereka tidak tidur hingga jam tiga pagi. Lalu mereka mengajak saya menonton film saat itu juga. Saya bilang tidak ada laptop.Saya lihat Ifa sedang menulis dengan tangan kirinya. Saya bertanya,”Ifa nulis pakai tangan kiri, ya?” Dia tidak menjawab. Aneh. Padahal dari tadi dia termasuk yang paling antusias berkomunikasi dengan saya. Via berbisik kepada saya,”lagi ngambek, kak.”Ngambek, sejak kapan dia ngambek? Saya sama sekali tidak sadar dengan perubahannya suasana hatinya itu. Via menambahkan, karena tadi dia mengatakan ‘kak Ifa suka ngences kalo tidur’. Saya teringat, ungkapan itu memang diucapkan ifa, saya ia mengomentari perkataan saya,”Boleh tidur di masjid, asal...”Dari postur tubuhnya saya menduga dia lebih tua dari anak-anak lainnya. Dia lebih tinggi dan tubuhnya lebih berisi dari anak-anak perempuan lainnya. Dia juga dipanggil, kak. Tidak tahu bagaimana harus dihadapi, sekaligus tidak percaya kalau dia ngambek, saya diamkan saja. Saya mencoba berkomunikasi kembali. Dia masih tidak menjawab, malah membalikkan badan. Hingga saya pulang lima belas menit kemudian, dia masih saja tidak membalas sapaan saya. Saya akhirnya pulang dengan sedikit rasa bersalah karena tidak dapat meredakan mood buruknya.Saya membuat catatan-catatan kecil evaluasi respon anak-anak. Selain masalah nilai. Masalah lain, kerja sama, bully, meremehkan orang lain. Saya merasa perlu memperlambat proses pengondisian mereka, berfokus pada hal-hal menyenangkan tapi efektif mengatasi persoalan hubungan sosial mereka, tantangan yang belum saya temukan jalan keluarnya.Masalah nilai itu yang paling menggelayuti pikiran saya. Saya diposisikan sebagai guru oleh mereka. Tentu saja guru dalam perspektif pendidikan tradisional. Kata dan nilai saya seolah mutlak. Apakah memang harus dinilai? Ini berhubungan dengan masalah kerja sama tersebut. Sebelumnya anak-anak mengatakan hal-hal yang menunjukkan sikap berkompetisi. Seolah siapa yang lebih cepat selesai dan lebih bagus nilainya, lebih baik dari yang lain.Apalah arti nilai itu. Saya tidak menyalahkan anak-anak. Itu logika nilai lebih tinggi lebih baik begitu menyerap dalam pikiran peserta didik. Jangankan siswa, mahasiswa pun berpikiran serupa. Terlepas mereka paham atau tidak, jika IPK tinggi itu sudah baik. Nilai menjadi legitimasi ketuntasan belajar, sehingga mereka menyangka mereka sudah memahami mata pelajaran yang diberikan. Nilai menjadi puncak keberhasilan belajar. Semakin tinggi nilai, semakin dianggap berhasil anak di dalam belajar.Padahal, tidak. Nilai tidak menjadi satu-satunya bukti ketuntasan belajar. Paling tidak dalam pandangan saya, ketuntasan belajar adalah penerapan hasil belajar dalam situasi baru. Kalau belum mampu diterapkan, berarti pembelajaran belum benar-benar tuntas.Tadi malam, Bang Jakson, seorang warga, berkata pada saya,”kuliah kau itu nggak ada gunanya nanti, Bayu. Sekarang sampai dua tahun ke depan bolehlah kau tetap milih-milih pekerjaan yang sesuai kuliahmu. Habis itu, kau sudah harus memikirkan penghidupan. Nggak bisa lagi bertahan sesuai jurusan kalau gaji tidak memadai.”Secara umum saya tidak sepakat, tapi ada benarnya juga perkataan dia. Maksud saya, andaikata teori kuliah bersifat sedemikian praktis dan lapangan kerja sesuai jurusan tersedia secara memadai dan dihargai dengan ‘layak’, tentu dia tidak perlu berkomentar seperti itu. Wajar saja. Dia melanjutkan,”pendidikan kau itu, cuma ada empat gunanya. Pertama, menaikkan status sosial. Kedua, untuk pajangan dinding. Ketiga, untuk undangan pernikahan. Keempat, untuk melamar pekerjaan.” Di nomor empat dia menekankan, asal punya ijazah kau akan lebih ditengok perusahaan, entah jurusan apa saja, entah dia berguna atau tidak di dalam pekerjaan yang digeluti. Lagi pula, katanya, “ilmu kau di kuliah tidak akan banyak berguna, sekalipun kau bekerja di bidang sesuai jurusanmu.”Lalu untuk apa pendidikan itu. Nanti, kalau sudah berkeluarga, dia akan berguna. Begitulah kata bang Jakson. Wajar saja Bang Jakson berpikir ijazah tidak berguna. Buktinya, berapa banyak sarjana bekerja di luar jurusannya? Alasannya beragam, salah satu yang utama adalah karena keterbatasan lapangan pekerjaan atau gaji di bidang sesuai jurusan lebih rendah; apalagi untuk orang-orang lulusan sastra seperti saya.Wajar pula bila anak-anak berpikir nilai adalah satu-satunya yang bermanfaat bagi mereka. Orang dewasa belajar hanya bila ada manfaat praktisnya untuk penghidupan. Anak-anak, yang umumnya tidak menghidupi sendiri, tentu belum berpikir demikian. Itu ditambah lagi dengan penanaman nilai bahwa nilai, pengakuan guru, ijazah adalah puncak keberhasilan pendidikannya.Tapi mari kita pikir ulang, bukankah pikiran bang Jakson dengan anak-anak tersebut bertentangan? Di satu sisi hal-hal formalistik seperti nilai dan ijazah begitu diagungkan di pendidikan formal. Sampai-sampai orang yang berada di pendidikan informal seperti saya terkena imbasnya. Apapun perlu dinilai oleh guru. Itu belum lagi kita tambah betapa melangitnya teori-teori yang kita pelajari di ruang kelas. Dan kita bangga. Di sisi lain, segera setelah kebutuhan hidup mendesak, kita mulai menyadari, sebagaimana bang Jakson: ilmu, ijazah, dan nilai tinggi yang kau dapatkan dulu tidak memastikan kualifikasi dalam menghadapi dunia nyata. Buktinya, adik saya yang hanya tamatan SMK Pertanian sekarang menjadi karyawan pemadam kebakaran dengan gaji lima juta rupiah perbulan.
Terlepas perlu tidaknya nilai diberikan, yang jelas kesinambungan antara pendidikan dan pekerjaan, gagasan dan tindakan, seolah kurang diperhatikan. Tidak heran jika muncul kaum pemikir pendewa teori atau kaum pekerja dengan prinsip talk less do more. Padahal, menurut saya, keduanya tidak perlu bertentangan, mampu dan perlu berintegrasi, jika kita mengubah cara pandang mengenai hubungan keduanya mengikuti gagasan ‘ilmu amaliah-amal ilmiah’ atau praksis.Posted by lain-lain at 1:17 AM | Labels: Edukasi Anak | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Malam Lain, Masih Terasing
Monday, September 15, 2014
www.bayattic.com
Life is when we busy to think another thing. Hidup adalah ketika kita sibuk memikirkan hal lain. Saya lupa mengutip itu dari film apa. Bukan film Box Office tentunya. Saat ini, saya sedang mengalami hidup jenis itu, hidup ketika saya sibuk memikirkan hal lain.Malam ini saya masih seorang nokturnal, manusia malam. Sendiri, memikirkan diri. Seperti biasa banyak yang terlintas. Gagasan-gagasan lama yang terus-menerus muncul dan minta diuji kembali. Persoalan-persoalan yang saling bertentangan satu sama lain. Saat saya memutuskan untuk menulis tulisan ini, saya sedang memikirkan keterasingan.***Malam ini malam Ahad. Sabtu malam, tapi bukan malam Minggu. Begitu kata saya kepada Ihya, sahabat satu rumah kos. Bukan persoalan Islami atau tidak. Konotasi maknanya berbeda. Malam Ahad adalah malam pertama dalam satu minggu. Malam Minggu adalah malam terakhir. Yang pertama adalah hari pertama untuk memulai kesibukan, yang kedua adalah hari untuk bersenang-senang dan melupakan pekerjaan.Saya tidak pernah punya malam Minggu. Seperti malam itu, saya sedang mengutak-atik skripsi untuk terakhir kali. Sebelumnya Ihya mengajak saya ke Kampus kesayangannya, jurusan Desain Komunikasi Visual MSD. Mulai duduk di depan pintu masuk kampus sampai pulang, soal skripsi tidak lepas dari pikiran.Sesaat saya memutuskan bahwa draf skripsi saya sudah final, sebuah pesan singkat masuk. ‘Bay, sini nongkrong. Ada Edi Susilo’. Mas Fathoni mengajak saya keluar dari kamar, penjara kesukaan saya.Fathoni dan Edi Susilo adalah dua orang yang dahulu menjadi teman diskusi setia kala saya masih hidup sekontrakan dengan mereka di rumah ‘reot’ yang kami namakan Rumah Semesta. Selain keduanya, masih ada orang-orang lain lagi yang juga suka berdebat di rumah berhantu itu: Andre, Hardha, Harmoko, Putra, Deni, dan Chris.Itu baru penghuninya saja. Rumah Semesta adalah sebuah lokus yang menyatukan keragaman mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan, tempat di mana kami semua kuliah. Rumah Semesta adalah wilayah netral, tanggalkan sentimen keyakinan di depan pagar masuk. Di dalamnya kau manusia biasa dengan hak setara, bahkan kucing pun diperlakukan sama dengan manusia. Mungkin ada ratusan orang yang pernah singgah di sana. Sekedar mampir, menumpang tidur, menumpang makan, berdebat, sampai menumpang pacaran. Apapun yang ada di ruang tamu boleh dipergunakan dan dikonsumsi, kecuali perempuan tentunya. Apapun boleh diperbincangkan, dari persoalan toilet sampai tuhan. Sebagian orang bisa bertahan, kebanyakan hanya sekedar jalan-jalan.Singkatnya, nostalgia itu refleks menggerakkan keinginan untuk kembali bercengkerama. Alasan lainnya, bersama mereka adalah salah satu dari beberapa momen yang membuat saya menjadi manusia ‘normal’ untuk sementara. Setelah berganti kostum, saya dan adik saya meluncur ke De Kongkow, salah satu warung kopi di daerah Gambiran.***Ini pertama kalinya saya masuk ke warung kopi ini. Wajah-wajah familiar yang tidak saya ingat namanya segera terlihat begitu saya masuk ke dalam. Setelah sekedar menyapa, bersalaman, dan berbasa-basi saya mencari Fathoni dan Edi. Pencahayaan redup menyulitkan saya menemukan mereka. Akhirnya ditemukan juga di bagian tengah bersama dua orang lainnya. Satunya Istri mas Edi dan satu lagi, seorang perempuan, tapi saya tidak ingat siapa namanya.Perbincangan seperti biasa. Topik-topik serius yang dibahas dengan jenaka. Di sisi lain kota ini, perbincangan-perbincangan senada sedang terjadi. Manusia-manusia malam tanpa kehidupan romantis, mengalihkan cintanya pada topik-topik yang sulit dipahami orang kebanyakan. Bukankah cinta juga begitu? :-)Tampaknya malam itu saya kurang beruntung. Ihya telah mengejek saya karena masih saja memikirkan skripsi ketika sedang nongkrong. Di sini pun saya jadi bahan ejekan karena masih saja mencatat sesuatu. Kebetulan, teman istri mas Edi juga adalah seorang jomblo, tidak punya pacar. Jadilah saya dan temannya itu bahan ejekan.Saya tidak tahu apakah saya terlalu terlihat seperti orang yang kurang ‘kasih sayang’, tidak mengenal perempuan, tidak punya pacar, tepatnya tidak mau pacaran? Sial. Fathoni sesukanya bergurau saya jomblo tanpa bertanya siapa pacar saya sekarang. Walau pada faktanya memang tidak ada pacar. Atau lebih parah, saya justru menjadi salah tingkah ketika digoda. Sesunyi itukah hidup saya?***Fathoni adalah salah seorang yang saya kagumi. Wawasan dan sikap demokratisnya. Sederhananya, dia selalu berhasil membuat saya melihat sudut pandang lain. Perjalanan skripsi saya juga saya konsultasikan kepadanya. Terkadang saya merasa ia tidak setuju dengan saja, tapi saya selalu gagal membaca itu di wajah dan kalimat-kalimatnya. Alih-alih menolak, dia selalu memberi pertimbangan-pertimbangan. Saya selalu merasa aman dengan orang-orang semacam itu.Saat itu kami tinggal bertiga. Edi bersama istri dan temannya telah pulang lebih dahulu karena anak mas Edi sudah rewel. Tidak lama kemudian Chris, adik saya, juga ikut pulang karena tidak tahan dengan dingin, katanya.Yogya memang lebih dingin dari biasanya sekitar sebulan terakhir. Saya masih ingat ibu penjaga warung langganan saya yang menggigil sewaktu saya membeli rokok di sana sekitar jam 3 pagi. Padahal sedang musim panas.Katakanlah kami pasangan yang sedang dirundung cinta, dinginnya malam semakin meromantiskan suasana. Perbincangan-perbincangan menjadi semakin privat. Malam selalu begitu. Pada malam-malam lainnya, malam selalu bisa membuat orang membuka dirinya. Membuat orang bermimpi, mendengkur, dengan jari-jari entah menjelajah ke mana tanpa mereka sadari, membuat orang ingin bercerita soal rahasia-rahasia yang disembunyikan dibalik topeng kehidupan siangnya.Persoalan kami sama, gamang pulang ke rumah. Aku merasa sebagaimana dia, orang tua telah mempersiapkan sesuatu untuk kami di sana, di rumah yang telah jauh berbeda sejak kami berangkat ke Yogya.“Aku nggak tahu mas, siap atau tidak kalau nanti pulang ke Riau”“Kalau kata Bourdieu, kamu sudah punya modal intelektual, tapi belum punya modal politik, modal ekonomi, dan modal sosial. Orang-orang seperti itu biasanya lebih dekat ke dunia pendidikan.”Saya juga berpikir demikian. Menjadi pendidik adalah salah satu pilihan terbaik yang bisa dipikirkan. Saya tidak tegaan, itu membuat saya tidak bisa jadi pedagang. Saya juga masih terlalu moralis untuk bisa menjadi seorang politisi. Dan toh, saya juga bukan anak seorang terpandang agar bisa tiba-tiba dihormati ketika pulang ke rumah.“Tapi aku terlalu berbeda, Mas. Ibuku cuma tahu aku merokok. Itu pun dia bilang aku harus berhenti merokok kalau sudah di sana, soalnya aku disuruh melamar jadi guru di sekolah Islam.” kataku sambil tertawa miris.”Dia belum tahu bagaimana kacaunya hidupku di sini.”“Jangan takutlah. kita memang terasing. Tanpa sadar kita (mahasiswa) memang sengaja diasingkan. Kita tercerabut dari kehidupan sosial kita. Kita jadi khawatir untuk pulang. yah, paling nanti shock selama dua bulan. Aku yakin kamu bisa ngatasi itu. Tergantung analisis sosialnya.”“Tapi aku sudah terlalu lama tidak pulang ke sana, Mas. Adikku bilang, di sana sudah banyak berubah. Aku sama sekali nggak punya gambaran apa-apa.”Saya diam sebentar, teringat dengan curahan hati seorang teman lain. Dia seorang kutu buku, melahap buku-buku posmodernisme. Buku-buku yang sampai sekarang masih cukup sulit saya pahami. Dia berkata bahwa masalah terbesar ketika di kampung halaman adalah menjaga idealisme dan menerjemahkan itu ke dalam bahasa yang dipahami orang awam. Tampaknya dia kesulitan, dan kini memilih tinggal di Yogya.Barangkali itu pula salah satu alasan kenapa banyak sarjana memilih tinggal di kota. Secara psikologis, mereka tidak siap untuk kembali dan menghadapi persoalan yang begitu berbeda dari bayangannya: pengangguran, sindiran, minim akses, sendirian.Masalah serupa dialami oleh teman saya yang lain. Beruntungnya dia tinggal di Bantul, dekat dengan pusat kota. Begitu dia terasing dia bisa melarikan diri ke kota. Atau cerita teman lainnya lagi yang juga tinggal di Bantul. Setiap hari cuma mendekam di rumah karena merasa tidak cocok dengan orang-orang di sekitarnya.Apakah saya akan seperti itu juga? Saya tidak ingin seperti itu.“Di tempatku lebih parah.” katanya,”Sudah tidak ada anak mudanya.”“ya, aku juga pernah dengar cerita itu dari beberapa orang teman. Di Gunung Kidul sama di Magelang. Kalaupun ada paling cuma anak SMA.”“Itu karena sekolah masih dekat. Di tempatku, kalau tidak merantau kerja, ya kuliah. Aku malah pernah diceritakan, ada kampung yang itu isinya cuma orang tua saja.”Aku berseloroh,”Kalau gitu, apa aku tinggal di Jawa aja ya, Mas? Lama-lama Jawa makin kosong. Kita bisa ngerampok tanah.”Kami tertawa sejenak. Ia melanjutkan,”Ini ada hubungannya dengan pusat dan pinggiran yang kita bicarakan tadi. Ada kekuatan apa yang bisa menarik orang-orang di pinggiran sampai semuanya ke kota. Seperti magnet. Invisible Hand. Seperti ada kekuatan Jin. Jin Ifrit saja tidak sekuat itu. Dulu waktu Sulaiman memerintahkan jin untuk mengangkut istana Ratu Saba’, itu riil. Ada tenaganya dan jelas yang dipindahkan. Tapi ini apa? Tidak kelihatan dan dia memindahkan semua orang.”Mas Fath selalu handal memainkan simbol-simbol semacam itu, menjelaskan sesuatu tanpa memerinci dengan logika.“Dulu aku sempat berdebat juga soal ini, Mas” tanggapku,”Apakah kita perlu tinggal di kota atau ke daerah. Menurut dia, kalau mau mengembangkan jaringan dan pemikiran ya tinggal di kota. Tapi, persoalannya, kota semakin padat. Kita akan bicara soal pengembangan daerah. Sementara kita tidak tahu apa-apa soal kondisi di daerah. Daerah tetap kosong, dan kita sebut tertinggal. Padahal kita enggan pulang ke sana.”“Barangkali itu salah satu alasan aku ingin pulang ke daerah. Walaupun aku belum merasa siap dengan kondisi-kondisi yang mungkin kuhadapi.” lanjutku.Dia berkomentar,“Persoalannya kita sadar. Kita sadar bahwa kita terasing. Kita bisa menjelaskan masalah kita dengan mencari penyebab-penyebabnya. Itu sudah modal. Masih banyak teman-teman kita lain yang nggak sadar sama sekali kalau mereka terasing. Akhirnya, ya, tetap terasing.”“Persoalan selanjutnya, adalah bagaimana cara mengatasinya.” sahutkuDia meluruskan,”Tepatnya, berapa lama kita mampu mengatasinya. Ada orang yang cepat dan ada pula yang lambat.”Berapa lama saya baru bisa mengatasinya? Sebulan? Dua bulan? Setahun? Dua tahun? Dia bilang, ada kekagetan saat kita pertama kali kembali muncul ke publik. Pikiran tidak mampu mengendalikan tubuh. Kita merasa salah tingkah begitu saja. Seperti yang kualami ketika tadi aku digoda. Berapa lama aku baru bisa mengatasi ini? Atau aku terlalu khawatir?Ah, entahlah. Saya tidak ingin berspekulasi. Tapi pemikiran itu tidak bisa kuhindari. Perbincangan-perbincangan semacam ini, entah berapa lama saya lalui. Selalu saja tidak menghasilkan resolusi dan rasa aman. Barangkali perlu menceburkan diri ke laut dulu, biar tahu bagaimana nikmatnya berenang, begitu cerita hikmah yang pernah saya baca. Bagaimana kalau saya tenggelam. Tidak adakah pilihan lain?***Aku berusaha menangkap perbincangan kami malam itu sekenanya. Barangkali ada yang kukarang-karang juga. Tapi aku yakin aku telah mengungkapkan intinya. Malam itu, kami hidup ketika kami sibuk memikirkan hal-hal lain yang kami khawatirkan.Di perjalanan pulang, dalam boncengannya saya bertanya,”Mas, nggak pernah merasa sakit karena sendirian?”Dia tertawa,”Ya pernah, sering. Apalagi kalau ke kampus. Nggak ada yang dikenal. Terasing. Tapi ya, tadi gimana cara ngatasinya aja.” Begitu kira-kira ia menjawab.
Posted by lain-lain at 4:46 AM | Labels: renungan | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Haruskah Ritual Bertujuan?
Monday, July 7, 2014
Bulan puasa, sebuah perbincangan teologis. Sudah lama rasanya aku meninggalkan pembicaraan semacam itu. Dan tampaknya kau masih cukup antusias. Aku akan melatihmu lagi, dengan segala istilah rumit yang selama ini sengaja aku sembunyikan dari setiap perbincangan. Kau harus melatih memori, rasa ingin tahu, dan sikap keras kepala untuk mencari jawabanmu sendiri. Tidak boleh berhenti di sini.Posted by lain-lain at 5:23 PM | Labels: renungan | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
'Mendengarkan' Para Perempuan Berbicara: Catatan Kecil Skripsiku
Friday, June 27, 2014
25 Juni 2014Sekarang, pukul 23 : 42. Sejak maghrib tadi saya mengecek kembali bahan-bahan yang sudah dimiliki. Dengan segera saya tertarik pada nama-nama baru dalam kritik sastra feminis, seperti Mary Eagleton, Virginia Woolf, Simone de Beauvoir, dan Toril Moi. Nama-nama lain muncul, seperti Rosemarie Tong dan Lois Tyson.Bila sudah bicara nama, mau tidak mau harus bicara karya. Saya tidak ingat banyak soal apa yang telah saya baca. Saya membaca sekilas, saat tertumbuk pada nama lain, saya akan mencari referensi karya atau yang membahasa karyanya. Tentu jika nama dan karya itu saya anggap penting. Dan nama-nama di atas adalah sederet nama penting.Salah satu ingatan yang kuat adalah bahwa prototype kritik sastra feminisme telah dimulai sejak 1792 oleh perempuan bernama Mary Wallstonecraft. Tidak ada tokoh dan karya penting lain hingga pada tahun 1929 Virginia Woolf menulis A Room of One’s Own. Woolf adalah orang yang dianggap sebagai pioner Kritik Sastra Feminis modern. Juga tidak ada tokoh penting dari Virginia Woolf hingga pada tahun 1949 muncul buku The Second Sex karya Simone de Beauvoir. Setelah itu, baru pada tahun 1960-an, tulisan-tulisan mengenai kritik sastra feminis meledak.Ledakan itu tidak ayal membuat kritik sastra feminis menjadi sebuah pendekatan yang sangat beragam. Mulai tahun 80-an, pendekatan ini bahkan mulai berkombinasi dengan teori posstruktural, psikoanalisis, poskolonial, dan lain-lain. Beragamnya pandangan di dalam kritik sastra feminis, bukan berarti ia tidak memiliki pandangan yang sama. Semua kritikus sastra akan sepakat dengan yang dikatakan oleh Virginia Woolf, bahwa mereka sedang membicarakan hubungan antara perempuan dan fiksi. Hubungan itu bisa berarti beragam, dan para kritikus feminis bisa berbeda pandangan. Yang jelas, mereka sama-sama bertumpu pada pandangan bahwa sistem kehidupan kita didominasi oleh pikiran dan kehendak laki-laki. Hal itu juga merasuk ke dalam karya sastra. Perempuan pernah tidak diakui dan masih belum mendapatkan tempat yang pantas di dalam sejarah sastra. Perempuan tidak diakui, tapi ia adalah ‘binatang yang paling sering dibicarakan’, kata Virginia Woolf.Untuk itu, kritik sastra feminis menjadi sebuat proyek politis. Di antaranya untuk mendorong munculnya resisting reader, pembaca yang melawan citra perempuan yang berdistorsi dan di ulang-ulang. Termasuk juga, agar perempuan mendapat pengakuan yang sejajar dengan laki-laki. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, para kritikus feminis pasti akan berbicara seks/jenis kelamin dan jender serta apa perbedaan keduanya.Hanya itu yang bisa saya ingat betul. Selebihnya hanya lintasan-lintasan pikiran saja berusaha membentuk jalinan yang utuh. Entah ini salah satu kelemahan atau kelebihan, Saya tidak akan berhenti untuk mencari bahan sebelum pikiran mengatakan cukup. Sebelum jalinan itu belum benar-benar terasa lengkap tanpa celah lagi. Saya akan berusaha mencari satu referensi hingga dapat jika sebuah nama dan karya sering diulang dan dikutip di dalam berbagai tulisan. Saya akan terus menambah bahan, hingga saya merasa saya sudah mendapatkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan penting yang saya ajukan dan saya sudah mendapatkan gambaran kasar topik yang sedang dibahas.Saya pikir awalnya saya sudah mendapatkan gambaran yang utuh. Tapi feminisme begitu berbeda. Perbedaan dalam feminisme adalah sebuah perayaan. Itu salah satu gagasan yang (kalau tidak salah) saya temukan di dalam buku Rosemarie Tong, Feminists Thought. di dalam buku itu, ia (kalau tidak salah ingat) menampilkan berbagai varian dari Feminisme. Tidak kurang dari 9 varian. ia bahkan masih dengan rendah hati mengatakan bahwa apa yang ia tuliskan di dalam buku itu tidak dimaksudkan untuk merangkum seluruh pandangan feminis.
Saya berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan etis, terutama dalam posisi saya sebagai laki-laki. Sekalipun saya berani mengklaim bahwa saya sadar gender dan cenderung pada pandangan feminisme tertentu, saya tetap khawatir. Saya khawatir, bias-bias ideologi patriarki masih kuat dalam pembacaan saya terhadap tulisan-tulisan tersebut. bagi Tong, suara-suara perempuan yang begitu beragam itu tidak perlu dipaksakan menjadi satu. bahkan itu adalah ciri khas mereka. Persoalannya, sudah seberapa jauh saya memahami suara-suara itu, suara-suara yang sudah sangat lama dibungkam oleh ganasnya dominasi laki-laki.Saya mulai merasa ragu untuk melanjutkan ini. Tapi judul telah diterima, dan saya pikir saya masih bisa mengatasi keraguan ini. Salah satunya adalah dengan membaca lebih banyak karya mereka, 'mendengarkan' mereka, dan 'berdialog' dengan mereka. Barangkali, saya akan menjadi satu-satunya laki-laki yang akan mendengarkan karya mereka, berdialog dengan karya mereka.Bahan-bahan yang saya dapatkan sebagian besar adalah jurnal dan buku hasil ‘berburu’ di internet. Yah, soal buku memang barangkali akan ada persoalan hak cipta. Saya tetap menghargai karya ciptaan orang lain, sekalipun belum menerima konsep hak cipta. Itu artinya, saya berusaha tidak mencari buku-buku berhak cipta yang berbahasa Indonesia. Persoalan besarnya adalah saya kurang dana dan bahan yang dibutuhkan tidak ada di dalam bahasa Indonesia.Pencarian hampir setengah malam menghasilkan beberapa tulisan-tulisan penting dari tokoh-tokoh yang telah saya sebut di atas. Termasuk juga beberapa buku pengantar kritik sastra yang membahas kritik sastra feminis di dalamnya. Baik dalam bentuk PDF atau dari website. Yah, bagi mereka yang kekurangan dana, kebetulan bisa berbahasa Inggris, bisa mencari bahan-bahan di website seperti archive.org, Project Gutenberg, JStor, atau marxists.org. website-website ini hanya sedikit dari banyak website yang memungkinkan seseorang bisa mengakses jurnal atau buku dengan gratis.Saya pikir, untuk sementara bahan-bahan yang saya miliki sekarang sudah cukup. Persoalannya sekarang adalah bagaimana mengatur, menguraikan, memilah, dan menyintesiskannya. Beberapa bayangan sudah ada di kepala, namun masih belum jelas. Jika bayangan di pikiran ini diungkapkan, saya cukup yakin, saya harus mengubah sebagian besar landasan teori yang sudah saya buat di proposal skripsi kemarin.Posted by lain-lain at 12:39 AM | Labels: Ruang Kelas | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |