Rss Feed

  1. Ahad ini sebenarnya saya tidak ingin berangkat. Tapi tidak enak juga rasanya. Seperti merindukan seseorang, tidak ingin bertemu tapi kalau tidak bertemu rasanya seperti kehilangan sesuatu, he...bagaimanapun beruntung saya berangkat. Ada kemajuan baru dalam pemahaman saya atas anak-anak.

    Tanpa persiapan apa-apa saya berangkat. Sampai di sana, Masjid tempat Kami biasa berkumpul kosong. Saya menunggu sekitar seperempat jam sampai anak-anak datang setelah dipanggil oleh pembina mereka.

    Karena masjid dipakai oleh pertemuan lain, Kami pindah ke saung. Saya membuka netbook, bersiap dengan rencana spontan, menonton film. Beberapa anak di bawah kelas 3 SD ikut nimbrung. Terjadi pertengkaran kecil antara Putri, binaan saya, dengan dua orang anak tersebut. Beberapa anak binaan saya juga ikut nimbrung, memerintahkan kedua anak pergi dari saung, hingga salah satunya menangis. Saya bilang tidak apa-apa. Tapi suasana tidak juga reda.

    Seorang anak lain yang lebih besar datang membantu saya mengendalikan keadaan. Namanya M. Syu’aib, saya kenal nama itu setelah sempat berbincang sesaat setelah pertemuan selesai. Syu’aib meminta anak-anak selain binaan saya keluar dari saung.

    Setelah lebih terkendali, saya melihat Fahri di tengah anak-anak. Dia baru saja minta ijin potong rambut ke saya. Saya telah mengijinkan. Rupanya, ibu pembinanya meminta ia ikut pertemuan dulu. Saya batalkan rencana menonton film, sebab akan lama dan akhirnya Fahri tidak akan pergi potong rambut. Saya bilang, menonton filmnya minggu depan saja.

    Anak-anak setuju. Jadilah saya kembali ke model biasa, duduk melingkar membicarakan sebuah topik. Saya ajak anak-anak mendiskusikan musyawarah. Saya memang telah berencana membahas topik ini dengan arah praktis nantinya. Saya ingin mendiskusikan ulang beberapa hal terkait pertemuan, sehingga ke depannya bisa lebih terarah karena ada kesepahaman dan aturan bersama.

    Beberapa pertanyaan yang saya ajukan sebagai berikut:

    1. Pernah dengar istilah musyawarah
    2. Apa itu musyawarah
    3. Apa contoh musyawarah
    4. Apa saya yang ada di dalam musyawarah
    5. Apa yang membedakan musyawarah dengan yang lain

    Semua anak mengenal musyawarah. Dulu pernah belajar kata mereka, tapi lupa. Saat saya minta mereka mencontohkan, hanya satu dari sekian contoh mereka termasuk dalam kategori musyawarah: briefing. Ada beberapa contoh lain mengarah ke sana, misalnya seorang anak mengatakan,”saat kita mengadakan sebuah acara.” Jika yang mengatakan itu mahasiswa, saya akan mudah menggiringnya pada pernyataan yang lebih tepat dengan pertanyaan yang tepat. Tapi, menghadapi komentar itu, saya malah bingung.

    Seperti biasa, anak-anak mulai kehilangan konsentrasi memasuki sekitar 15-20 menit pertemuan. Hah! Mereka terlalu mudah kehilangan konsentrasi. Beberapa sibuk sendiri. Sedikit saja mereka teralihkan, mereka akan seterusnya teralihkan. Tentu saja saya kebingungan, sekalipun kali ini saya bisa lebih cepat mengembalikan mereka ke topik. Tidak dengan cara kreatif sih, hanya mengatakan, “Ayo, kita fokus dulu.”

    Mereka bisa mengendalikan diri. Tetap saja, sudah tidak sekondusif di awal. Di luar saung juga sedang ada gotong royong dan suara bising mesin pemotong rumput. Suara saya lenyap dikalahkan suara mesin tersebut. Segera saja saya akhir pertemuan.

    Setelah membaca doa kafarat-ul majlis dan salam. Anak laki-laki segera keluar. Sementara anak perempuan mendekati saya. Ana menagih pena berwarna yang minggu lalu saya janjikan kepadanya. Saya pun berikan. Putri juga minta satu. Dia ambil pena berwarna hijau. Riza datang,”Eee, Kakak, saya mau pena yang warna hijau.” Putri juga ingin pena berwarna hijau. Bakal ada pertengkaran lain ini kalau saya biarkan. Saya memohon pada Putri,”Putri pena yang coklat saja, ya. Yang hijau kemarin sudah dipesan Riza.”  Setelah beberapa menit merayu, mau juga Putri memberikan pena itu.

    Anak laki-laki juga sempat hampir merebut pena yang saya beri ke Ana. Saya tahan. Seperti perkataan kepada Putri, saya sampaikan kalau pena itu sudah dipesan. Ifa, dengan diamnya seperti biasa, tampaknya juga mau. Indikasinya, dia mendekat ke saya dan memperhatikan saksama saat saya memberikan pena ke anak-anak. Saya tanya,”Ifa belum, ya.” Dia mengangguk. Benar dugaan saya. Saya mencari-cari pena lain di tas. Tidak ada. Saya bilang minggu depan insya Allah dibawakan untuk Ifa. Dia mengangguk.

    Ada sedikit kemajuan hubungan saya dengan Ifa. Dia masih pendiam seperti biasa. Tapi dibandingkan ngambeknya dua minggu berturut-turut sebelumnya, kini dia lebih mudah diajak berkomunikasi. Beberapa percapakan pendek kami lakukan.

    Saya memang belum mampu mengosentrasikan mereka dalam waktu cukup lama saat pertemuan berlangsung. Saya menduga, ada kontradiksi dalam persepsi anak-anak mengenai pertemuan ini. Mereka mengira pembinaan ini serupa sekaligus tidak serupa dengan belajar di sekolah. Serupa karena ada struktur pertemuan dan ada topik (dalam pandangan mereka, tentu saja materi). Tidak serupa, karena mereka lebih bebas di dalam pertemuan. Keserupaan itu membuat anak-anak menjadikan saya sebagai pemangku pengetahuan di sana. Kata saya mutlak. Ketidakserupaan membuat mereka lebih bebas mencari alasan atau pergi begitu saja atau tiba-tiba mengalihkan pembicaraan: hal yang tidak mungkin mereka lakukan di sekolah. Tapi mereka masih menganggap ini seperti belajar di sekolah. Simpelnya, saya menduga pembelajaran di sekolah membosankan dan kebelummampuan saya menggunakan metode tepat membuat anak-anak segera menunjukkan kebosanan mereka.

    Ini baru dugaan, perlu pembuktian. Saya bisa ajukan bukti. Anak-anak lebih berkonsentrasi saat berbincang dengan saya di luar pertemuan dibandingkan saat pertemuan berlangsung. Padahal, saya menggunakan cara yang relatif serupa pada kedua situasi. Saya tetap hanya bertanya, mendengarkan, dan membawa mereka hingga menyimpulkan. Bedanya, ada struktur dan materi di dalam pertemuan.

    Saya tidak memungkiri, saya lebih tahu dari mereka. Tentu saja mengenai topik yang saya kendalikan dalam pertemuan, karena dalam hal lain mereka lebih tahu dari saya, seperti pengetahuan mereka berkomunikasi sesama mereka. Saya pun tidak akan mengelak bila saya bertanggung jawab atas mereka. Ini bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, dengan itu saya bisa membawa mereka memiliki pengetahuan baru. Di sisi lain selalu ada perangkap saya menjadi terlalu dominan, sehingga akhirnya hanya menyuapkan. Saya bahkan tidak pungkiri, dengan keterbatasan pemahaman saya mengenai dunia anak, dunia mereka, sadar tidak sadar saya masih terlalu dominan menyuapkan.

    Anak-anak tentu saja perlu di arahkan. Tidak ada pendidikan netral, semua mengarahkan. Namun, bukan berarti anak-anak hanya perlu diam dan mendengarkan. Begitu keyakinan saya. Mereka memiliki anggapan-anggapan, jika bukan keyakinan (karena keyakinan terbentuk setelah puluhan tahun pengalaman) yang perlu didengarkan dan diuji. Kita perlu tahu apa yang mereka pikir, rasa, dan alami. Kita perlu belajar mengajak mereka belajar berpikir reflektif, menguji pengalaman secara ketat demi pengetahuan baru. Tentu saja tidak seketat mengajak orang dewasa berpikir dan tentu saja dengan cara berbeda, cara yang belum saya temukan.

    Apa yang menjadi kemajuan pemahaman saya adalah semakin kuatnya kemungkinan metode hadap masalah/dialogis diterapkan pada anak-anak. Saya kira ada yang sudah berhasil sebelumnya, tapi saya memang belum punya pengalaman di sana. Beberapa hipotesis yang saya bangun dan mulai terbukti adalah:

    Pertama, anak-anak tidak datang dari ruang vakum pengalaman. Sejak pertemuan awal anak-anak selalu mampu memberikan contoh-contoh dan jawaban-jawaban yang relevan atau kurang relevan berdasarkan pengalaman mereka. Memang, hal yang menarik perhatian saya, mereka spontan berkata tidak tahu jika merasa tidak ada pengalaman yang relevan dengan topik yang sedang dibicarakan.

    Kedua, anak-anak lebih tertarik membicarakan apa yang mereka tahu. sejak pertemuan pertama anak-anak akan antusias jika diajak berbicara apa yang mereka telah ketahui tentang topik. Kalau mereka bisa memberikan pengalaman yang relevan, mereka akan berebutan menjawab. Mereka juga antusias diajak berbicara mengenai hal yang mereka sukai, mereka inginkan, mereka alami, dan mereka kenal dengan baik. Problemnya, cerita mereka murni informatif sekedar memberitakan fakta, keadaan, kejadian. Informasi-informasi faktual inilah yang belum dapat saya gerakkan menuju pengetahuan baru.

    Saya berusaha menghormati pengetahuan, perasaaan, dan pengalaman mereka. Bukan berarti akan berhenti berputar pada pengetahuan, perasaan, dan pengalaman mereka saja. Saya harus mengajak mereka bergerak, tentu saja. Saya juga harus berhati-hati agar tidak manipulatif, seolah terlihat menghormati tapi sesungguhnya memaksa secara halus. Pisau bermata dua bernama pengetahuan dan kepemimpinan pendidik itu selalu mengancam. Dia masih melukai pertemuan yang saya pimpin ini. Namun saya yakin, saya akan semakin mahir menggunakan pisau tersebut sehingga tidak melukai siapapun.


    * Ada dua anak baru lain, tapi saya lupa namanya. Ifan dan Ulfa masih belum kelihatan juga. Yoga tidak kelihatan, sudah dua pertemuan. Ridho, anak yang baru saja muncul minggu lalu, sudah menghilang lagi. 


  2. Minggu gagal lainnya.

    Sebagaimana telah saya janjikan di pertemuan ke-4, anak-anak saya ajak bermain. Rencananya, permainan hari ini bertujuan membangun kerja sama sekaligus kesabaran mereka. Setelah searching di internet, ada beberapa permainan yang saya kira cocok dicoba: snake, human knot, traffic jam.

    Ada satu syarat yang saya berlakukan dalam memilih permainan. Permainan tersebut ‘memaksa’ semua orang berpartisipasi dan tidak akan selesai bila ada yang keluar dari permainan. Ketiga permainan di atas sesuai dengan kriteria saya.

  3. “Ini nggak di-ponten, Om?” kata Raihan, seorang anak binaan saya, sambil menunjuk pekerjaan tulisnya. Setelah sekian lama, baru kali ini istilah ponten saya dengar kembali. Terkejut juga, rupanya masih lestari. Ponten mengacu pada nilai. Memberi ponten berarti memberi nilai. Saya tidak tahu darimana asal kata itu dan bagaimana ejaan aslinya. Saya hanya menulis berdasarkan pendengaran saja.

    Saya geli bercampur bingung mendengar pertanyaannya. Geli karena istilah yang ia gunakan, bingung harus merespon apa, Saya tidak pernah meniatkan pekerjaan itu sebagai tugas yang akan dinilai akhirnya. Akhirnya saya menanggapi pendek, “Buat apa?”

    “eh, Iyaalah. Diponten ajalah.” Katanya seraya memohon.

    “nggak usahlah, ya.” Kata saya sambil tersenyum.

    “kalo nggak ditandangani aja,”

    Kalau tanda tangan tidak masalah, kata saya. Anak lainnya, Riza, lebih gigih. Ia tidak puas dengan tanda tangansaja.

    “ini dikasih nilai lah, Kak.” Dia mengulang itu beberapa kali, sekalipun saya berusaha menolak. Tidak tahu bagaimana lagi harus menolak. Akhirnya saya menanyakan, nilai berapa yang ia inginkan. 100, jawabnya. Saya minta dia tuliskan sendiri angka tersebut di lembar kerjanya. Ia tidak mau. Akhirnya, saya tuliskan juga angka 100 di sana. Riza masih juga protes.

    “Dikasih tanda tangan, Kak.” Mintanya kepada saya. Kak, Om, dan Bang adalah variasi panggilan mereka pada saya dan saya tidak soal dengan itu.  

    “Kan sudah ditanda tangani ini.” Jelas saya menunjukkan tanda tangan saya di atas lembar kerjanya.

    “Bukan seperti itu. Kayak gini.” Dia memberi tanda paraf yang sangat saya kenal: sebuah garis ditarik vertikal ke atas lalu dilekukkan ke kiri hingga ke kanan hampir membentuk 2/3 lingkaran, lalu ditarik miring ke kanan bawah. Kira-kira begitu dekripsinya. Saya kira sebagian besar anak-anak seusia saya juga sangat mengenal pola ini. Seolah ini adalah bukti keabsahan nilai dari guru. Tanpa paraf itu, berarti nilai tidak ada artinya, sekalipun angka 100 tertera di sana.

    Sebenarnya saya tidak berminat menggunakan buku tulis. Raihan dan Riza adalah beberapa anak binaan saya. Masih ada Safwan, Ifa, Via, Dina, Syams, Qori, Putri, Ulfa, Ibn Mas’ud, Ifan, Anda, dan Yoga. Semuanya masih SD, kelas 4-6 SD. Mereka anak-anak yatim yang tinggal di Darul Aitam, sebuah panti asuhan.

    Sejak diminta membina sebulan lalu, ini sudah pertemuan keempat. Setiap minggu satu kali pertemuan. Melihat perilaku mereka di Masjid minggu lalu, saya terpikir membahas Adab di Masjid hari ini. Buku tulis saya gunakan karena salah satu pembina mereka bertanya apakah saya memakai buku atau tidak.

    Saya tidak pernah terpikir mereka akan seperti bersekolah, memakai buku tulis sebagai catatan apa yang mereka dengar. Setelah pertemuan hari ini, saya semakin yakin dengan itu. Sejak awal anak-anak merayu agar tidak menggunakan buku tulis. Yoga beralasan penanya hilang lalu beralasan dia tidak bisa menulis. Syams beralasan dia akan potong rambut sehingga minta cepat-cepat diselesaikan. Sementara anak-anak perempuan jauh lebih antusias dari mereka.

    Di awal pertemuan, saya mengajak mereka berdiskusi tentang masjid. Saya mengajukan beberapa pertanyaan:
    1. Apa masjid pertama yang didirikan rasulullah Muhammad SAW?
    2. Apa arti Masjid?
    3. Apa fungsi masjid?

    Sejauh diskusi berjalan, anak-anak cukup antusias mencari tahu. Saya menyangka saya sudah bisa mengosentrasikan mereka ke topik. Rupanya, tidak. Setelah diskusi singkat kami, saya bagi mereka ke dalam kelompok kecil. Niatnya mencampur anak perempuan dengan laki-laki. Entah apa alasannya, anak-anak menolak. Akhirnya tidak saya campur.

    Saya menugaskan mereka mencari tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di dalam masjid. Secara berkelompok, silahkan bertanya kepada ustadz-ustadzah pembina mereka, atau siapa saja. Anak laki-laki tidak soal dengan tugas, tapi mencari-cari alasan agar tidak menulis. Setelah itu terjadilah apa yang saya sebutkan di awal tadi. Padahal saya ingin agar mereka mencari tahu lalu kita diskusikan bersama.

    Hal lain yang mendapat perhatian saya, anak-anak berkelompok tapi bekerja sendiri-sendiri. Dari empat kelompok dari 12 orang, hanya satu kelompok yang mencari bersama.

    Untuk keempat kalinya, saya masih gagal menjaga antusiasme anak-anak hingga akhir pertemuan. Setelah tugas mereka dinilai, beberapa orang pergi dan tidak kembali. Alasannya bermain bola dan memangkas rambut. Yang tersisa Dina, Ifa, Via, dan Putri mengobrol dengan saya. Entah bagaimana, saya lebih mudah mengobrol dengan anak-anak daripada orang dewasa. Sekali mereka diberi kesempatan berbicara, mereka tidak akan berhenti.

    Keempat gadis cilik ini menceritakan film-film yang mereka tonton tadi malam sehingga mereka tidak tidur hingga jam tiga pagi. Lalu mereka mengajak saya menonton film saat itu juga. Saya bilang tidak ada laptop.

    Saya lihat Ifa sedang menulis dengan tangan kirinya. Saya bertanya,”Ifa nulis pakai tangan kiri, ya?” Dia tidak menjawab. Aneh. Padahal dari tadi dia termasuk yang paling antusias berkomunikasi dengan saya. Via berbisik kepada saya,”lagi ngambek, kak.”

    Ngambek, sejak kapan dia ngambek? Saya sama sekali tidak sadar dengan perubahannya suasana hatinya itu. Via menambahkan, karena tadi dia mengatakan ‘kak Ifa suka ngences kalo tidur’. Saya teringat, ungkapan itu memang diucapkan ifa, saya ia mengomentari perkataan saya,”Boleh tidur di masjid, asal...”

    Dari postur tubuhnya saya menduga dia lebih tua dari anak-anak lainnya. Dia lebih tinggi dan tubuhnya lebih berisi dari anak-anak perempuan lainnya. Dia juga dipanggil, kak. Tidak tahu bagaimana harus dihadapi, sekaligus tidak percaya kalau dia ngambek, saya diamkan saja. Saya mencoba berkomunikasi kembali. Dia masih tidak menjawab, malah membalikkan badan. Hingga saya pulang lima belas menit kemudian, dia masih saja tidak membalas sapaan saya. Saya akhirnya pulang dengan sedikit rasa bersalah karena tidak dapat meredakan mood buruknya.

    Saya membuat catatan-catatan kecil evaluasi respon anak-anak. Selain masalah nilai. Masalah lain, kerja sama, bully, meremehkan orang lain. Saya merasa perlu memperlambat proses pengondisian mereka, berfokus pada hal-hal menyenangkan tapi efektif mengatasi persoalan hubungan sosial mereka, tantangan yang belum saya temukan jalan keluarnya.

    Masalah nilai itu yang paling menggelayuti pikiran saya. Saya diposisikan sebagai guru oleh mereka. Tentu saja guru dalam perspektif pendidikan tradisional. Kata dan nilai saya seolah mutlak. Apakah memang harus dinilai? Ini berhubungan dengan masalah kerja sama tersebut. Sebelumnya anak-anak mengatakan hal-hal yang menunjukkan sikap berkompetisi. Seolah siapa yang lebih cepat selesai dan lebih bagus nilainya, lebih baik dari yang lain.  

    Apalah arti nilai itu. Saya tidak menyalahkan anak-anak. Itu logika nilai lebih tinggi lebih baik begitu menyerap dalam pikiran peserta didik. Jangankan siswa, mahasiswa pun berpikiran serupa. Terlepas mereka paham atau tidak, jika IPK tinggi itu sudah baik. Nilai menjadi legitimasi ketuntasan belajar, sehingga mereka menyangka mereka sudah memahami mata pelajaran yang diberikan. Nilai menjadi puncak keberhasilan belajar. Semakin tinggi nilai, semakin dianggap berhasil anak di dalam belajar.
    Padahal, tidak. Nilai tidak menjadi satu-satunya bukti ketuntasan belajar. Paling tidak dalam pandangan saya, ketuntasan belajar adalah penerapan hasil belajar dalam situasi baru. Kalau belum mampu diterapkan, berarti pembelajaran belum benar-benar tuntas.

    Tadi malam, Bang Jakson, seorang warga, berkata pada saya,”kuliah kau itu nggak ada gunanya nanti, Bayu. Sekarang sampai dua tahun ke depan bolehlah kau tetap milih-milih pekerjaan yang sesuai kuliahmu. Habis itu, kau sudah harus memikirkan penghidupan. Nggak bisa lagi bertahan sesuai jurusan kalau gaji tidak memadai.”

    Secara umum saya tidak sepakat, tapi ada benarnya juga perkataan dia. Maksud saya, andaikata teori kuliah bersifat sedemikian praktis dan lapangan kerja sesuai jurusan tersedia secara memadai dan dihargai dengan ‘layak’, tentu dia tidak perlu berkomentar seperti itu. Wajar saja. Dia melanjutkan,”pendidikan kau itu, cuma ada empat gunanya. Pertama, menaikkan status sosial. Kedua, untuk pajangan dinding. Ketiga, untuk undangan pernikahan. Keempat, untuk melamar pekerjaan.” Di nomor empat dia menekankan, asal punya ijazah kau akan lebih ditengok perusahaan, entah jurusan apa saja, entah dia berguna atau tidak di dalam pekerjaan yang digeluti. Lagi pula, katanya, “ilmu kau di kuliah tidak akan banyak berguna, sekalipun kau bekerja di bidang sesuai jurusanmu.”

    Lalu untuk apa pendidikan itu. Nanti, kalau sudah berkeluarga, dia akan berguna. Begitulah kata bang Jakson. Wajar saja Bang Jakson berpikir ijazah tidak berguna. Buktinya, berapa banyak sarjana bekerja di luar jurusannya? Alasannya beragam, salah satu yang utama adalah karena keterbatasan lapangan pekerjaan atau gaji di bidang sesuai jurusan lebih rendah; apalagi untuk orang-orang lulusan sastra seperti saya.

    Wajar pula bila anak-anak berpikir nilai adalah satu-satunya yang bermanfaat bagi mereka. Orang dewasa belajar hanya bila ada manfaat praktisnya untuk penghidupan. Anak-anak, yang umumnya tidak menghidupi sendiri, tentu belum berpikir demikian. Itu ditambah lagi dengan penanaman nilai bahwa nilai, pengakuan guru, ijazah adalah puncak keberhasilan pendidikannya.

    Tapi mari kita pikir ulang, bukankah pikiran bang Jakson dengan anak-anak tersebut bertentangan? Di satu sisi hal-hal formalistik seperti nilai dan ijazah begitu diagungkan di pendidikan formal. Sampai-sampai orang yang berada di pendidikan informal seperti saya terkena imbasnya. Apapun perlu dinilai oleh guru. Itu belum lagi kita tambah betapa melangitnya teori-teori yang kita pelajari di ruang kelas. Dan kita bangga. Di sisi lain, segera setelah kebutuhan hidup mendesak, kita mulai menyadari, sebagaimana bang Jakson: ilmu, ijazah, dan nilai tinggi yang kau dapatkan dulu tidak memastikan kualifikasi dalam menghadapi dunia nyata. Buktinya, adik saya yang hanya tamatan SMK Pertanian sekarang menjadi karyawan pemadam kebakaran dengan gaji lima juta rupiah perbulan.


    Terlepas perlu tidaknya nilai diberikan, yang jelas kesinambungan antara pendidikan dan pekerjaan, gagasan dan tindakan, seolah kurang diperhatikan. Tidak heran jika muncul kaum pemikir pendewa teori atau kaum pekerja dengan prinsip talk less do more. Padahal, menurut saya, keduanya tidak perlu bertentangan, mampu dan perlu berintegrasi, jika kita mengubah cara pandang mengenai hubungan keduanya mengikuti gagasan ‘ilmu amaliah-amal ilmiah’ atau praksis. 

  4. Malam Lain, Masih Terasing

    Monday, September 15, 2014


    www.bayattic.com

    Life is when we busy to think another thing. Hidup adalah ketika kita sibuk memikirkan hal lain. Saya lupa mengutip itu dari film apa. Bukan film Box Office tentunya. Saat ini, saya sedang mengalami hidup jenis itu, hidup ketika saya sibuk memikirkan hal lain.

    Malam ini saya masih seorang nokturnal, manusia malam. Sendiri, memikirkan diri. Seperti biasa banyak yang terlintas. Gagasan-gagasan lama yang terus-menerus muncul dan minta diuji kembali. Persoalan-persoalan yang saling bertentangan satu sama lain. Saat saya memutuskan untuk menulis tulisan ini, saya sedang memikirkan keterasingan. 

    ***
    Malam ini malam Ahad. Sabtu malam, tapi bukan malam Minggu. Begitu kata saya kepada Ihya, sahabat satu rumah kos. Bukan persoalan Islami atau tidak. Konotasi maknanya berbeda. Malam Ahad adalah malam pertama dalam satu minggu. Malam Minggu adalah malam terakhir. Yang pertama adalah hari pertama untuk memulai kesibukan, yang kedua adalah hari untuk bersenang-senang dan melupakan pekerjaan. 

    Saya tidak pernah punya malam Minggu. Seperti malam itu, saya sedang mengutak-atik skripsi untuk terakhir kali. Sebelumnya Ihya mengajak saya ke Kampus kesayangannya, jurusan Desain Komunikasi Visual MSD. Mulai duduk di depan pintu masuk kampus sampai pulang, soal skripsi tidak lepas dari pikiran. 

    Sesaat saya memutuskan bahwa draf skripsi saya sudah final, sebuah pesan singkat masuk. ‘Bay, sini nongkrong. Ada Edi Susilo’. Mas Fathoni mengajak saya keluar dari kamar, penjara kesukaan saya. 
    Fathoni dan Edi Susilo adalah dua orang yang dahulu menjadi teman diskusi setia kala saya masih hidup sekontrakan dengan mereka di rumah ‘reot’ yang kami namakan Rumah Semesta. Selain keduanya, masih ada orang-orang lain lagi yang juga suka berdebat di rumah berhantu itu: Andre, Hardha, Harmoko, Putra, Deni, dan Chris. 

    Itu baru penghuninya saja. Rumah Semesta adalah sebuah lokus yang menyatukan keragaman mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan, tempat di mana kami semua kuliah. Rumah Semesta adalah wilayah netral, tanggalkan sentimen keyakinan di depan pagar masuk. Di dalamnya kau manusia biasa dengan hak setara, bahkan kucing pun diperlakukan sama dengan manusia. Mungkin ada ratusan orang yang pernah singgah di sana. Sekedar mampir, menumpang tidur, menumpang makan, berdebat, sampai menumpang pacaran. Apapun yang ada di ruang tamu boleh dipergunakan dan dikonsumsi, kecuali perempuan tentunya. Apapun boleh diperbincangkan, dari persoalan toilet sampai tuhan. Sebagian orang bisa bertahan, kebanyakan hanya sekedar jalan-jalan.

    Singkatnya, nostalgia itu refleks menggerakkan keinginan untuk kembali bercengkerama. Alasan lainnya, bersama mereka adalah salah satu dari beberapa momen yang membuat saya menjadi manusia ‘normal’ untuk sementara. Setelah berganti kostum, saya dan adik saya meluncur ke De Kongkow, salah satu warung kopi di daerah Gambiran. 

    ***
    Ini pertama kalinya saya masuk ke warung kopi ini. Wajah-wajah familiar yang tidak saya ingat namanya segera terlihat begitu saya masuk ke dalam. Setelah sekedar menyapa, bersalaman, dan berbasa-basi saya mencari Fathoni dan Edi. Pencahayaan redup menyulitkan saya menemukan mereka. Akhirnya ditemukan juga di bagian tengah bersama dua orang lainnya. Satunya Istri mas Edi dan satu lagi, seorang perempuan, tapi saya tidak ingat siapa namanya. 

    Perbincangan seperti biasa. Topik-topik serius yang dibahas dengan jenaka. Di sisi lain kota ini, perbincangan-perbincangan senada sedang terjadi. Manusia-manusia malam tanpa kehidupan romantis, mengalihkan cintanya pada topik-topik yang sulit dipahami orang kebanyakan. Bukankah cinta juga begitu? :-)

    Tampaknya malam itu saya kurang beruntung. Ihya telah mengejek saya karena masih saja memikirkan skripsi ketika sedang nongkrong. Di sini pun saya jadi bahan ejekan karena masih saja mencatat sesuatu. Kebetulan, teman istri mas Edi juga adalah seorang jomblo, tidak punya pacar. Jadilah saya dan temannya itu bahan ejekan. 

    Saya tidak tahu apakah saya terlalu terlihat seperti orang yang kurang ‘kasih sayang’, tidak mengenal perempuan, tidak punya pacar, tepatnya tidak mau pacaran? Sial. Fathoni sesukanya bergurau saya jomblo tanpa bertanya siapa pacar saya sekarang. Walau pada faktanya memang tidak ada pacar. Atau lebih parah, saya justru menjadi salah tingkah ketika digoda. Sesunyi itukah hidup saya?

    ***
    Fathoni adalah salah seorang yang saya kagumi. Wawasan dan sikap demokratisnya. Sederhananya, dia selalu berhasil membuat saya melihat sudut pandang lain. Perjalanan skripsi saya juga saya konsultasikan kepadanya. Terkadang saya merasa ia tidak setuju dengan saja, tapi saya selalu gagal membaca itu di wajah dan kalimat-kalimatnya. Alih-alih menolak, dia selalu memberi pertimbangan-pertimbangan. Saya selalu merasa aman dengan orang-orang semacam itu. 

    Saat itu kami tinggal bertiga. Edi bersama istri dan temannya telah pulang lebih dahulu karena anak mas Edi sudah rewel. Tidak lama kemudian Chris, adik saya, juga ikut pulang karena tidak tahan dengan dingin, katanya. 

    Yogya memang lebih dingin dari biasanya sekitar sebulan terakhir. Saya masih ingat ibu penjaga warung langganan saya yang menggigil sewaktu saya membeli rokok di sana sekitar jam 3 pagi. Padahal sedang musim panas. 

    Katakanlah kami pasangan yang sedang dirundung cinta, dinginnya malam semakin meromantiskan suasana. Perbincangan-perbincangan menjadi semakin privat. Malam selalu begitu. Pada malam-malam lainnya, malam selalu bisa membuat orang membuka dirinya. Membuat orang bermimpi, mendengkur, dengan jari-jari entah menjelajah ke mana tanpa mereka sadari, membuat orang ingin bercerita soal rahasia-rahasia yang disembunyikan dibalik topeng kehidupan siangnya.

    Persoalan kami sama, gamang pulang ke rumah. Aku merasa sebagaimana dia, orang tua telah mempersiapkan sesuatu untuk kami di sana, di rumah yang telah jauh berbeda sejak kami berangkat ke Yogya. 

    “Aku nggak tahu mas, siap atau tidak kalau nanti pulang ke Riau” 

    “Kalau kata Bourdieu, kamu sudah punya modal intelektual, tapi belum punya modal politik, modal ekonomi, dan modal sosial. Orang-orang seperti itu biasanya lebih dekat ke dunia pendidikan.”

    Saya juga berpikir demikian. Menjadi pendidik adalah salah satu pilihan terbaik yang bisa dipikirkan. Saya tidak tegaan, itu membuat saya tidak bisa jadi pedagang. Saya juga masih terlalu moralis untuk bisa menjadi seorang politisi. Dan toh, saya juga bukan anak seorang terpandang agar bisa tiba-tiba dihormati ketika pulang ke rumah.

    “Tapi aku terlalu berbeda, Mas. Ibuku cuma tahu aku merokok. Itu pun dia bilang aku harus berhenti merokok kalau sudah di sana, soalnya aku disuruh melamar jadi guru di sekolah Islam.” kataku sambil tertawa miris.”Dia belum tahu bagaimana kacaunya hidupku di sini.”

     “Jangan takutlah. kita memang terasing. Tanpa sadar kita (mahasiswa) memang sengaja diasingkan. Kita tercerabut dari kehidupan sosial kita. Kita jadi khawatir untuk pulang. yah, paling nanti shock selama dua bulan. Aku yakin kamu bisa ngatasi itu. Tergantung analisis sosialnya.”

    “Tapi aku sudah terlalu lama tidak pulang ke sana, Mas. Adikku bilang, di sana sudah banyak berubah. Aku sama sekali nggak punya gambaran apa-apa.” 

    Saya diam sebentar, teringat dengan curahan hati seorang teman lain. Dia seorang kutu buku, melahap buku-buku posmodernisme. Buku-buku yang sampai sekarang masih cukup sulit saya pahami. Dia berkata bahwa masalah terbesar ketika di kampung halaman adalah menjaga idealisme dan menerjemahkan itu ke dalam bahasa yang dipahami orang awam. Tampaknya dia kesulitan, dan kini memilih tinggal di Yogya. 

    Barangkali itu pula salah satu alasan kenapa banyak sarjana memilih tinggal di kota. Secara psikologis, mereka tidak siap untuk kembali dan menghadapi persoalan yang begitu berbeda dari bayangannya: pengangguran, sindiran, minim akses, sendirian. 

    Masalah serupa dialami oleh teman saya yang lain. Beruntungnya dia tinggal di Bantul, dekat dengan pusat kota. Begitu dia terasing dia bisa melarikan diri ke kota. Atau cerita teman lainnya lagi yang juga tinggal di Bantul. Setiap hari cuma mendekam di rumah karena merasa tidak cocok dengan orang-orang di sekitarnya. 

    Apakah saya akan seperti itu juga? Saya tidak ingin seperti itu. 

    “Di tempatku lebih parah.” katanya,”Sudah tidak ada anak mudanya.”

    “ya, aku juga pernah dengar cerita itu dari beberapa orang teman. Di Gunung Kidul sama di Magelang. Kalaupun ada paling cuma anak SMA.”

    “Itu karena sekolah masih dekat. Di tempatku, kalau tidak merantau kerja, ya kuliah. Aku malah pernah diceritakan, ada kampung yang itu isinya cuma orang tua saja.”

    Aku berseloroh,”Kalau gitu, apa aku tinggal di Jawa aja ya, Mas? Lama-lama Jawa makin kosong. Kita bisa ngerampok tanah.”

    Kami tertawa sejenak. Ia melanjutkan,”Ini ada hubungannya dengan pusat dan pinggiran yang kita bicarakan tadi. Ada kekuatan apa yang bisa menarik orang-orang di pinggiran sampai semuanya ke kota. Seperti magnet. Invisible Hand. Seperti ada kekuatan Jin. Jin Ifrit saja tidak sekuat itu. Dulu waktu Sulaiman memerintahkan jin untuk mengangkut istana Ratu Saba’, itu riil. Ada tenaganya dan jelas yang dipindahkan. Tapi ini apa? Tidak kelihatan dan dia memindahkan semua orang.”

    Mas Fath selalu handal memainkan simbol-simbol semacam itu, menjelaskan sesuatu tanpa memerinci dengan logika.

    “Dulu aku sempat berdebat juga soal ini, Mas” tanggapku,”Apakah kita perlu tinggal di kota atau ke daerah. Menurut dia, kalau mau mengembangkan jaringan dan pemikiran ya tinggal di kota. Tapi, persoalannya, kota semakin padat. Kita akan bicara soal pengembangan daerah. Sementara kita tidak tahu apa-apa soal kondisi di daerah. Daerah tetap kosong, dan kita sebut tertinggal. Padahal kita enggan pulang ke sana.”

    “Barangkali itu salah satu alasan aku ingin pulang ke daerah. Walaupun aku belum merasa siap dengan kondisi-kondisi yang mungkin kuhadapi.” lanjutku.

    Dia berkomentar,“Persoalannya kita sadar. Kita sadar bahwa kita terasing. Kita bisa menjelaskan masalah kita dengan mencari penyebab-penyebabnya. Itu sudah modal. Masih banyak teman-teman kita lain yang nggak sadar sama sekali kalau mereka terasing. Akhirnya, ya, tetap terasing.”

    “Persoalan selanjutnya, adalah bagaimana cara mengatasinya.” sahutku

    Dia meluruskan,”Tepatnya, berapa lama kita mampu mengatasinya. Ada orang yang cepat dan ada pula yang lambat.”

    Berapa lama saya baru bisa mengatasinya? Sebulan? Dua bulan? Setahun? Dua tahun? Dia bilang, ada kekagetan saat kita pertama kali kembali muncul ke publik. Pikiran tidak mampu mengendalikan tubuh. Kita merasa salah tingkah begitu saja. Seperti yang kualami ketika tadi aku digoda. Berapa lama aku baru bisa mengatasi ini? Atau aku terlalu khawatir?

    Ah, entahlah. Saya tidak ingin berspekulasi. Tapi pemikiran itu tidak bisa kuhindari. Perbincangan-perbincangan semacam ini, entah berapa lama saya lalui. Selalu saja tidak menghasilkan resolusi dan rasa aman. Barangkali perlu menceburkan diri ke laut dulu, biar tahu bagaimana nikmatnya berenang, begitu cerita hikmah yang pernah saya baca. Bagaimana kalau saya tenggelam. Tidak adakah pilihan lain?

    ***
    Aku berusaha menangkap perbincangan kami malam itu sekenanya. Barangkali ada yang kukarang-karang juga. Tapi aku yakin aku telah mengungkapkan intinya. Malam itu, kami hidup ketika kami sibuk memikirkan hal-hal lain yang kami khawatirkan.

    Di perjalanan pulang, dalam boncengannya saya bertanya,”Mas, nggak pernah merasa sakit karena sendirian?”

    Dia tertawa,”Ya pernah, sering. Apalagi kalau ke kampus. Nggak ada yang dikenal. Terasing. Tapi ya, tadi gimana cara ngatasinya aja.” Begitu kira-kira ia menjawab.





  5. Haruskah Ritual Bertujuan?

    Monday, July 7, 2014


    Bulan puasa, sebuah perbincangan teologis. Sudah lama rasanya aku meninggalkan pembicaraan semacam itu. Dan tampaknya kau masih cukup antusias. Aku akan melatihmu lagi, dengan segala istilah rumit yang selama ini sengaja aku sembunyikan dari setiap perbincangan. Kau harus melatih memori, rasa ingin tahu, dan sikap keras kepala untuk mencari jawabanmu sendiri. Tidak boleh berhenti di sini.


  6. 25 Juni 2014

    Sekarang, pukul 23 : 42. Sejak maghrib tadi saya mengecek kembali bahan-bahan yang sudah dimiliki. Dengan segera saya tertarik pada nama-nama baru dalam kritik sastra feminis, seperti Mary Eagleton, Virginia Woolf, Simone de Beauvoir, dan Toril Moi. Nama-nama lain muncul, seperti Rosemarie Tong dan Lois Tyson.

    Bila sudah bicara nama, mau tidak mau harus bicara karya. Saya tidak ingat banyak soal apa yang telah saya baca. Saya membaca sekilas, saat tertumbuk pada nama lain, saya akan mencari referensi karya atau yang membahasa karyanya. Tentu jika nama dan karya itu saya anggap penting. Dan nama-nama di atas adalah sederet nama penting.

    Salah satu ingatan yang kuat adalah bahwa prototype kritik sastra feminisme telah dimulai sejak 1792 oleh perempuan bernama Mary Wallstonecraft. Tidak ada tokoh dan karya penting lain hingga pada tahun 1929 Virginia Woolf menulis A Room of One’s Own. Woolf adalah orang yang dianggap sebagai pioner Kritik Sastra Feminis modern. Juga tidak ada tokoh penting dari Virginia Woolf hingga pada tahun 1949 muncul buku The Second Sex karya Simone de Beauvoir. Setelah itu, baru pada tahun 1960-an, tulisan-tulisan mengenai kritik sastra feminis meledak.

    Ledakan itu tidak ayal membuat kritik sastra feminis menjadi sebuah pendekatan yang sangat beragam. Mulai tahun 80-an, pendekatan ini bahkan mulai berkombinasi dengan teori posstruktural, psikoanalisis, poskolonial, dan lain-lain. Beragamnya pandangan di dalam kritik sastra feminis, bukan berarti ia tidak memiliki pandangan yang sama. Semua kritikus sastra akan sepakat dengan yang dikatakan oleh Virginia Woolf, bahwa mereka sedang membicarakan hubungan antara perempuan dan fiksi. Hubungan itu bisa berarti beragam, dan para kritikus feminis bisa berbeda pandangan. Yang jelas, mereka sama-sama bertumpu pada pandangan bahwa sistem kehidupan kita didominasi oleh pikiran dan kehendak laki-laki. Hal itu juga merasuk ke dalam karya sastra. Perempuan pernah tidak diakui dan masih belum mendapatkan tempat yang pantas di dalam sejarah sastra. Perempuan tidak diakui, tapi ia adalah ‘binatang yang paling sering dibicarakan’, kata Virginia Woolf.

    Untuk itu, kritik sastra feminis menjadi sebuat proyek politis. Di antaranya untuk mendorong munculnya resisting reader, pembaca yang melawan citra perempuan yang berdistorsi dan di ulang-ulang. Termasuk juga, agar perempuan mendapat pengakuan yang sejajar dengan laki-laki. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, para kritikus feminis pasti akan berbicara seks/jenis kelamin dan jender serta apa perbedaan keduanya.

    Hanya itu yang bisa saya ingat betul. Selebihnya hanya lintasan-lintasan pikiran saja berusaha membentuk jalinan yang utuh. Entah ini salah satu kelemahan atau kelebihan, Saya tidak akan berhenti untuk mencari bahan sebelum pikiran mengatakan cukup. Sebelum jalinan itu belum benar-benar terasa lengkap tanpa celah lagi. Saya akan berusaha mencari satu referensi hingga dapat jika sebuah nama dan karya sering diulang dan dikutip di dalam berbagai tulisan. Saya akan terus menambah bahan, hingga saya merasa saya sudah mendapatkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan penting yang saya ajukan dan saya sudah mendapatkan gambaran kasar topik yang sedang dibahas.

    Saya pikir awalnya saya sudah mendapatkan gambaran yang utuh. Tapi feminisme begitu berbeda. Perbedaan dalam feminisme adalah sebuah perayaan. Itu salah satu gagasan yang (kalau tidak salah) saya temukan di dalam buku Rosemarie Tong, Feminists Thought. di dalam buku itu, ia (kalau tidak salah ingat) menampilkan berbagai varian dari Feminisme. Tidak kurang dari 9 varian. ia bahkan masih dengan rendah hati mengatakan bahwa apa yang ia tuliskan di dalam buku itu tidak dimaksudkan untuk merangkum seluruh pandangan feminis.

    Saya berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan etis, terutama dalam posisi saya sebagai laki-laki. Sekalipun saya berani mengklaim bahwa saya sadar gender dan cenderung pada pandangan feminisme tertentu, saya tetap khawatir. Saya khawatir, bias-bias ideologi patriarki masih kuat dalam pembacaan saya terhadap tulisan-tulisan tersebut. bagi Tong, suara-suara perempuan yang begitu beragam itu tidak perlu dipaksakan menjadi satu. bahkan itu adalah ciri khas mereka. Persoalannya, sudah seberapa jauh saya memahami suara-suara itu, suara-suara yang sudah sangat lama dibungkam oleh ganasnya dominasi laki-laki.

    Saya mulai merasa ragu untuk melanjutkan ini. Tapi judul telah diterima, dan saya pikir saya masih bisa mengatasi keraguan ini. Salah satunya adalah dengan membaca lebih banyak karya mereka, 'mendengarkan' mereka, dan 'berdialog' dengan mereka. Barangkali, saya akan menjadi satu-satunya laki-laki yang akan mendengarkan karya mereka, berdialog dengan karya mereka. 

    Bahan-bahan yang saya dapatkan sebagian besar adalah jurnal dan buku hasil ‘berburu’ di internet. Yah, soal buku memang barangkali akan ada persoalan hak cipta. Saya tetap menghargai karya ciptaan orang lain, sekalipun belum menerima konsep hak cipta. Itu artinya, saya berusaha tidak mencari buku-buku berhak cipta yang berbahasa Indonesia. Persoalan besarnya adalah saya kurang dana dan bahan yang dibutuhkan tidak ada di dalam bahasa Indonesia.

    Pencarian hampir setengah malam menghasilkan beberapa tulisan-tulisan penting dari tokoh-tokoh yang telah saya sebut di atas. Termasuk juga beberapa buku pengantar kritik sastra yang membahas kritik sastra feminis di dalamnya. Baik dalam bentuk PDF atau dari website. Yah, bagi mereka yang kekurangan dana, kebetulan bisa berbahasa Inggris, bisa mencari bahan-bahan di website seperti archive.org, Project Gutenberg, JStor, atau marxists.org. website-website ini hanya sedikit dari banyak website yang memungkinkan seseorang bisa mengakses jurnal atau buku dengan gratis.

    Saya pikir, untuk sementara bahan-bahan yang saya miliki sekarang sudah cukup. Persoalannya sekarang adalah bagaimana mengatur, menguraikan, memilah, dan menyintesiskannya. Beberapa bayangan sudah ada di kepala, namun masih belum jelas. Jika bayangan di pikiran ini diungkapkan, saya cukup yakin, saya harus mengubah sebagian besar landasan teori yang sudah saya buat di proposal skripsi kemarin. 


  7. Pada akhirnya, judul Skripsi diterima juga. “Isu Gender di dalam Novel Yauma Qutila Az-Za’im karya Najib Mahfuzh: Pendekatan Kritik Sastra Feminis.” Surat keputusan dari Fakultas menunjukkan bahwa dosen pembimbing telah diangkat sejak tanggal 16 Mei 2014. Karena kesibukan KKN, Bab 1 yang sudah diterima terbengkalai dan baru disampaikan ke Dosen Pembimbing beberapa hari lalu.

    Tidak ada alasan terlalu khusus mengapa saya mengambil novel dan pendekatan ini. Simpelnya, saya terburu waktu. Alasan ini adalah sebuah alasan yang buruk, teman saya, seorang idealis.

    “Kalau kau menghargai Mahfuzh sebagai pengarang besar, maka kau harus benar-benar serius dengan objek penelitianmu.” Dia bahkan menertawakan objek penelitianku,”Hanya satu Novel?”

    “Aku terburu waktu. Kalau nggak cepat-cepat, aku bisa dikeluarkan dari kampus.” Kata saya berusaha mempertahankan diri.

    “Waktu bukan alasan. Kau nggak bisa menjadikan alasan itu untuk tidak serius dengan objek penelitianmu.”

    Saya akui, proposal skripsi yang saya ajukan itu memang belum serius. Jika itu sesuai dengan level dia. Dia membaca begitu banyak buku sebelum memutuskan mengambil judul skripsi, kalau tidak salah “Aspek Kemanusiaan dalam puisi-puisi Wiji Thukul”. Seingatku sudah hampir setahun sejak ia pertama kali mempelajari puisi-puisi Wiji Thukul. Saya angkat jempol untuk energi dan sikap keras kepalanya dalam mengkaji objek penelitiannya. Hingga kini, setahu saya, skripsi itu belum selesai.

    Saya pun ingin begitu. Saya juga sempat ingin mengkaji puisi. Namun, lagi-lagi soal waktu. Ditambah satu lagi alasan paling mendasar, Bahasa Arab yang kacau balau. Padahal yang ingin saya kaji waktu itu adalah Adonis, yang konon termasuk ke dalam jajaran penyair yang puisinya paling sulit dipahami. Paling tidak butuh lebih dari satu tahun hanya untuk mengkaji satu kumpulan puisi. Belum lagi teori-teori yang harus dicari. Bisa hancur mimpi saya untuk segera keluar dari kampus ini dengan gelar sarjana.

    Saya kemudian tertarik dengan Mahfuzh. Setahu saya, ia satu-satunya orang timur tengah yang pernah menerima novel sastra, pada tahun 1988. Baginya menulis adalah sebuah tindakan politis. Dalam banyak kajian terhadap karya Mahfuzh, sikap politiknya tergambar di dalam karya-karya yang ia telurkan. Dengan balutan gaya realis ia berhasil mengungkap persoalan sosial, ekonomi, politik, agama, dan kebudayaan di Mesir. Saya ingin mengkaji sebagian besar novelnya, namun kendala yang sama muncul, ditambah lagi kurangnya referensi yang saya miliki.

    Saya akhirnya memilih satu novel, yang kebetulan saya miliki, Yauma Qutila Az-Za’im. Yauma Qutila az-Za’im berarti Hari Terbunuhnya Presiden. Bagi yang belum pernah membaca, mungkin akan mengira ini adalah novel tentang sebuah konspirasi besar untuk menjatuhkan Presiden, kudeta, dan semacamnya. Begitu membaca novel, gambaran yang sangat berbeda akan muncul. Novel ini hanya tentang 2 sejoli yang kandas hubungan pertunangannya karena persoalan ekonomi.

    Disinilah poin pentingnya. Untuk apa Mahfuzh membuat judul yang begitu provokatif dan politis, sementara ceritanya mengenai hubungan percintaan yang kandas. Mahfuzh ternyata tidak melepaskan dirinya dari persoalan yang dihadapi Rakyat Mesir. Sikap politis tidak ditunjukkan lewat alur cerita utama, tapi melalui ungkapan-ungkapan singkat yang bertaburan di dalam novel.

    Novel ini berlatar di Kairo pada masa pemerintahan Anwar Sadaat. Salah satu kebijakan paling penting yang mengubah wajah Mesir untuk selamanya adalah sebuah kebijakan yang disebut dengan al-infitah al-iqtishadiy. Kebijakan ini merupakan kebijakan ekonomi politik. Secara literal, berarti kebijakan pintu terbuka. Kebijakan “Pintu Terbuka” merupakan kebijakan yang membuka investasi asing sebesar-besarnya. Gampangnya, Mesir meliberalisasikan dirinya. Harapan Sadaat kebijakan ini bisa mengatasi krisis ekonomi yang diderita oleh Mesir. Hasilnya jauh dari harapan Sadaat. Kebijakan ini justru membuat jurang si miskin dan si kaya semakin lebar.

    Pembacaan awal terhadap novel membuat  saya ingin mengkaji Mahfuzh dengan pendekatan Materialisme Kultural. Salah satu pendekatan kritik karya sastra yang bersifat sosiologis. Melalui pendekatan ini saya bisa mengeksplorasi lebih jauh hubungan novel dengan situasi Mesir pada masa Sadaat. Saya ingin memakai teori Terry Eagleton, salah satu tokoh penting dalam materialisme kultural. Namun saya sadar, saya belum menguasai pendekatan satu ini. Dengan perkiraan kemampuan ditambah level idealisme dan tingkat kemalasan yang saya miliki, paling tidak butuh waktu setengah tahun lebih untuk merampungkan skripsi.

    Saya berpikir untuk berganti novel dan pendekatan. Salah satu kajian yang cukup saya mengerti adalah gender dan feminisme. Saya kemudian memutuskan untuk mengambil pendekatan kritik sastra feminis. Terpikir untuk mengambil novelis perempuan? Tapi siapa? Nawaal El-Sa’dawi, terlalu sering. Bagaimana jika saya mengkaji novelis laki-laki saja? Saya pikir lebih menantang. Terpikir untuk mengkaji Mustafa al-Manfaluthi. Entah kenapa, saya masih ragu. Saya kemudian membaca ulang novel Yauma Qutila Az-Za’im. Saya membaca lebih detail, dengan asumsi kritik feminis di dalam kepala. Pencerahan pun datang.

    Saya terkonsentrasi ke tokoh utama perempuan di dalam Novel, Rondah Sulaiman Mubarak. Haha, jika ada yang paling ingin saya nikahi, maka tipikal Rondah Sulaiman Mubarak adalah salah satunya. Sikap, tindakan, dan keyakinan Rondah menunjukkan perlawanan terhadap dominasi laki-laki, sekalipun ia tetap terkesan kompromistik. Persoalan kandasnya hubungan pertunangan Rondah dengan Alwan juga karena Alwan merasa malu dengan ketidakmampuan ekonominya. Ini adalah persoalan gender. Tanpa pikir panjang saya putuskan untuk mengambil novel ini dan mengkajinya dengan pendekatan feminis.

    Saya pun mulai mencari bahan secukupnya untuk memulai proposal. Lucu memang. Saya seorang mahasiswa jurusan Bahasa Arab, namun tidak satupun rujukan yang saya gunakan dari bahasa Arab, kecuali Novel yang saya teliti. Saya justru menggunakan referensi berbahasa Inggris untuk proposal. Ternyata cukup banyak yang telah mengkaji Mahfuzh dengan pendekatan kritik sastra gender dan feminisme.

    Dengan kajian seadanya saya kemudian meminta kepada kepala program studi untuk seminar. Akhirnya judul itu diterima. Pada tanggal 16 Mei itu, saya mendapat dosen pembimbing. Setelah Bab 1 diajukan ke dosen pembimbing sikap sok idealis kembali muncul.

    Saya baca kembali bahan-bahannya, baik teori maupun novel, persoalan-persoalan tambahan muncul. Misalnya, saya menggunakan Elaine Showalter sebagai salah satu rujukan utama. saya menggunakan kritik sastra feminis yang disebut dengan feminist critique. Istilah ini saya dapatkan dari Elaine Showalter. Showalter merupakan tokoh yang menyebutkan bahwa ada 2 pendekatan di dalam kritik sastra feminis, yaitu feminist critique dan gynocritism. Jadi saya mendapatkan istilah ini dari dia. Gampangnya kalau dalam feminist critique yang dikaji adalah perempuan di dalam karya sastra dan hubungannya dengan sistem sosial, patriark secara spesifik. Sedangkan dalam gynocritism, yang dikaji adalah perempuan sebagai penulis karya sastra

    Masalahnya Elain Showalter menolak feminist critique. Saya baru tahu setelah saya baca lebih detail. Berarti saya harus mencari lagi bahan tambahan yang mendukung pendekatan yang saya gunakan. Artinya, pendapat saya yang mengatakan bahwa mengkaji pengarang laki-laki lebih menantang, justru tidak menantang menurut Showalter.

    Saya kemudian bertemu dengan tokoh lain yang menyamakan konsep citra perempuan dengan feminist critique. Saya juga bertemu dengan kritik sastra feminis khas feminis khas Prancis. Belum lagi ternyata ada pendapat yang mengatakan bahwa pendekatan kritik sastra gender berbeda dengan kritik sastra feminis.

    Apa itu feminist critique, citra perempuan, gynocritism, dan lain-lainnya? haha, saya juga masih kurang paham betul. Gambaran kasar sudah ada, tapi belum berani saya simpulkan. Masih  banyak bahan yang harus dicari dan dikaji. Saya harus mendapatkan benang merah untuk melanjutkan skripsi ini. Saya sudah menyempitkan pandangan saya, namun saya belum memahami lukisan besarnya. Ini masalah saya, saya hampir selalu kesulitan untuk melanjutkan sesuatu bisa saya tidak memahami gambaran besar dari sebuah persoalan, sekalipun topik yang ingin saya bahas sangat spesifik. Saya hanya harus mengkaji Mahfuzh.

    Saya juga masih bimbang, apakah saya perlu memasukkan juga kajian mengenai perspektif feminis yang sangat variatif. Itu baru persoalan teori. Saya menghadapi kendala lain. Misalnya saya butuh data mengenai perempuan di era Anwar Sadaat. Belum lagi, sepertinya saya harus memahami bagaimana tradisi pernikahan dan hubungan laki-laki perempuan di Mesir agar bisa menjelaskan motif-motif tokoh yang ada di dalam novel.

    Setelah jalan, saya baru sadar, saya sudah begitu jauh dari gender dan feminisme. Mau tidak mau harus membaca dari awal lagi. Padahal feminisme merupakan satu pendekatan yang sangat variatif, sementara saya belum memutuskan, pendekatan seperti apa yang harus saya gunakan. Yah, perkiraan paling tidak butuh waktu lebih dari 3 bulan untuk menyelesaikan ini.