-
Bang Irwan, Rinduku Tebal (2)
Friday, September 6, 2013
Sewindu sudah lamanya waktu tinggalkan tanah kelahiranku, rinduku tebal kasih yang kekal. Detik-ke detik bertambah tebal.(Rinduku Tebal, Iwan Fals)Setahun lagi, sewindu.Memang bukan tempat aku dilahirkan, tapi dibesarkan. Katanya, tempat aku dilahirkan dekat dengan sebuah lereng gunung. Aku tidak pasti, belum pernah melihatnya sampai saat ini.Posted by lain-lain at 1:03 AM | Labels: Cerita Pendek | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Bang Irwan, Rinduku Tebal (1)
Thursday, September 5, 2013
Rinduku setebal awan legam di musim penghujan. Gelap, aku hampir lupa jalan pulang. Ini soal mengingat ayah, apakah aku sudah mencoreng nama keluarga. Bang Iwan, aku selalu mengenang ayahku dalam perjalanan. Tentang ibuku, yang selalu menangis dalam hati saat bercanda denganku dari kejauhan. Saat aku memandang sawah, rumah, dan pertokoan, ingatanku seluruhnya tersangkut disana. Tak ada lagi yang tersisa untuk dibawa pulang. Hanya kesan kerinduan yang acapkali mendesak tangisan. Getir, tapi itu begitulah hidup harus ditahan. (04 September 2013)
Hampir tidak tertahankan. Temanku bilang, pantang menangis di depan teman laki-laki. Barangkali iya. Hanya ada beberapa laki-laki yang pernah melihatku menangis, Ayah dan adik-adik ku. Aku tidak punya keyakinan seperti teman itu, tapi tetap saja tidak pernah ada tangisan di depan teman-teman.Malam itu setelah menyelesaikan beberapa tulisan, aku mendengar sebuah lagu dari kamar sebelah. “Rinduku Tebal” lagu milik Iwan Fals. Dulu pernah hapal, sering dinyanyikan bersama teman-teman satu Band, versi punk rock. Ini pertama kali mendengarnya kembali setelah hampir setahun. Aku tersentak, mendadak seluruh ingatan tentang laki-laki itu kembali hadir.Namanya Irwan, lelaki batak kelahiran Tapanuli Selatan. Nama itu hampir terlupakan, sebab aku hampir tidak pernah menghubunginya. Apalagi untuk menyebut namanya. Aku punya marga, Batubara. Tapi ia melarang semua anak untuk memakainya. “Nanti hanya akan membuat masalah,” barangkali dia punya pengalaman buruk dengan keluarga dan nama marga, entahlah. Aku memutuskan untuk menuliskan inisial marga itu di alamat emailku, bb. Bukan untuk penanda suku, tapi untuk pengingat belaka. Bahwa aku anaknya. Larangannya itu begitu mendalam tertanam di kepala anak-anaknya, khususnya aku dan adikku. Kami tidak pernah peduli soal marga dan keluarga, bahkan cenderung tidak dekat dengan mereka.Dulu aku pernah berpikir, jika aku diberi pilihan aku tidak pernah mau menjadi anaknya. Bekas luka di siku kananku sampai saat ini tidak pernah hilang sejak SD. Bekas itu aku dapatkan karena tergores kayu yang tertanam di dalam sungai. Dia yang melempar aku ke dalamnya. Tulang telapak kananku mungkin juga telah patah karena ia pukul dengan gagang sapu berbahan alumunium ketika kelas 2 SMP. Kala itu tanganku sampai bengkak hampir seminggu. Aku tidak pernah merasa bersalah, dan dia tidak pernah mau meminta maaf.Lelaki pendiam dan tidak banyak bicara. Bayangkan, seumur hidupku belum pernah kutahu ia bercanda denganku. Kecuali saat aku masih bayi, kata ibu. Aku sering iri ketika ia bercengkrama dengan Anggi, adik perempuanku satu-satunya. Begitu lepasnya ia tertawa, kenapa ia tak bisa begitu kepada anak laki-lakinya? Satu-satunya pembicaraan hanyalah makian. Hampir setiap hari. Aku pernah bilang ke ibu, mengapa laki-laki seolah-olah mencari-cari masalah denganku, sebab aku tidak pernah merasa bersalah. Ibu tak menjawab.Entahlah, kemarin kubilang, aku ingin dipeluk olehnya melihat dia menangis dipundakku. Bukan karena aku ingin dia merendahkan diri dengan tangisan, tapi karena aku hanya ingin tahu, bahwa aku masih ia akui sebagai anak. Ada rasa ragu, aku khawatir dia sudah begitu marah padaku. Aku berpesan ke adikku bahwa aku ingin menelepon dia. Tapi adikku tidak memberi jawaban. Jangan-jangan dia begitu marah, dan ibu menjadi sasarannya. Aku takut mereka bertengkar lagi dan lagi karena persoalan yang sama, soal anak pertamanya. Umurku sudah dua lima, memalukan bertengkar karena lelaki seusia itu.
Lagu ini mengingatkanku dengan seluruh kehidupanku. Tiap lirik berhubungan dengan berbagai momen kehidupanku, sekalipun tidak persis. aku butuh tulisan lainnya, tidak disini, sebab ada yang sudah mendesak untuk dikeluarkan.Posted by lain-lain at 10:32 PM | Labels: Cerita Pendek | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Pukul 2: Selamat Tidur 'Insomnia', Saatnya Istirahat
Wednesday, September 4, 2013
Tapi aku sedang bahagia sekaligus rindu. Ada 2 tulisan yang hendak kubuat pagi-pagi buta ini. tubuh sudah begitu kelelahan karena kemarin seharian mengerjakan beberapa tulisan. Kucuri sedikit waktu istirahat untuk menjejakkan sedikit kenangan. Sedikit ulasan, entah akan jadi tulisan atau tidak, biar itu urusan masa depan.3 september 2013, salah satu momen paling spesial dalam hidup. Itulah tulisan yang ingin dibuat. Beberapa peristiwa rasanya menghidupkan lagi mesin imajinasi untuk berani bermimpi, untuk terus bertahan dengan mimpi ini. Aku bahagia, merasa selangkah lebih maju dari fase hidup sebulan yang lalu, setelah di akhir bulan aku dikritik habi-habisan. terima kasih kepada kawan, di jurang ini aku menemukan alasan untuk bangkit kembali. Terima kasih kepada kawan, di jurang ini kau berikan aku kesabaran.Lewat sedikit tengah malam, sementara seluruh anak kontrakan sedang bercengkrama di beranda, sebuah lagu lama membangkitkan kerinduan kepada rumah. “Bang Iwan, Rinduku Tebal”, judulnya. Rinduku setebal awan legam di musim penghujan. Gelap, aku tak melihat jalan pulang. Ini soal mengingat ayah, apakah aku sudah mencoreng nama keluarga. Bang Iwan, aku selalu mengenang ayahku dalam perjalanan. Tentang ibuku, yang selalu menangis dalam hati saat bercanda denganku dari kejauhan. Saat aku memandang sawah, rumah, dan pertokoan, ingatanku seluruhnya tersangkut disana. Berceceran. Tak ada lagi yang tersisa untuk dibawa pulang. Hanya kesan kerinduan yang acapkali mendesak tangisan. Getir, tapi itu begitulah hidup harus ditahan.Seluruh kebahagian dan seluruh kerinduan. Paradoksa kehidupan. Leburan tak mampu menyimpulkan bagaimana kebenaran harus diungkapkan. Campur aduk seperti reaksi kimia dalam percobaan. Mungkin gagal, mungkin berhasil, setidaknya terus mencari jalan.Barangkali sarannya benar, pikiranku butuh rehat kalau tidak, bisa macet ini otak. Paling tidak, tidur sejenak, melegakan rencana yang terus mendesak. Esok, tumpukan masalah masih manja ingin diperhatikan. Itu akan melelahkan, sisakan energi sedikit untuk kesenangan, meratapi kehidupan dengan senyuman.Pagi buta, pukul 2, ini akhir untuk insomnia. Saatnya istirahat.Posted by lain-lain at 2:27 AM | Labels: embuh | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Menghadirkan Yang Lain, Menghadirkan Diri
Tuesday, September 3, 2013
Seringkali yang kita butuhkan bukanlah pembicaraan yang penuh tanggapan, tapi sekedar kehadiran. Baik kehadiran itu adalah kehadiran secara lansung atau ditengahi oleh sesuatu. Apakah ia hadir di hadapan atau di dalam pikiran.Hadir tidak harus berbicara, walau acapkali kita ajak bicara. Orang-orang yang kita sayangi sering menuntut agar mengabari, bahwa kita masih ada. Para guru dan dosen seringkali tidak mempersoalkan peserta didiknya berbicara atau tidak, yang penting hadir mengisi absensi. Para penganut agama tidak mempersoalkan Tuhannya membalas atau tidak, yang penting Ia dihadirkan. Para pengagum tokoh menghadirkan foto atau buku di kamarnya, para pacar menghadirkan pacarnya melalui benda-benda hadiah. Kehadiran yang lain, lansung atau dimediasi, dihadapi atau dihadirkan, menjadi penegas. Menjadi pengakuan pada diri, bahwa kita ada. Seperti kebutuhan kita pada cermin, kita tidak benar-benar merasa ada tanpa kehadiran yang lain.Kita ada karena keberadaan yang lain. Dan kegelisahan atau keresahan sering menarik kita ke dalam keterasingan. Menyendiri. Tidak harus secara nyata, tapi juga pikiran yang menyendiri. Tubuh dimana, pikiran dimana, tidak ada bersama. Semakin jauh kita dari kehadiran yang lain, semakin kita merasa tidak ada di dunia, semakin merasa tidak hidup. Kehadiran yang lain dapat membantu untuk menyatukan kembali tubuh dan pikiran, sekalipun kesatuan itu tidak lantas menyelesaikan kegelisahan.Setidaknya, menjadi hadir, menjadi eksis, ada kepercayaan diri untuk mengatasi kegelisahan. Sebab, kehadiran yang lain bisa menjadi energi, inspirasi, atau bahkan menjadi alasan untuk bertahan.Posted by lain-lain at 4:37 AM | Labels: renungan | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Menemani, Mendengarkan, dan Bercerita
Monday, September 2, 2013
Sebagian besar yang kutulis disini merupakan cerita nyata atau ada berhubungan dengan sesuatu yang benar-benar terjadi. Sebagai penulis pemula dengan imajinasi biasa-biasa saja, gaya menulis seperti inilah yang paling mudah bagiku jika dibandingkan dengan menulis cerita yang sepenuhnya fiktif. Aku terbiasa menulis tulisan-tulisan ilmiah, tapi tidak dengan fiksi.
Posted by lain-lain at 2:54 AM | Labels: renungan | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Menemani, Bercerita, dan Mendengarkan
Sunday, September 1, 2013
Tadi aku “menemani” pacar adikku dan pacar sahabatku chat di FB (kalau dengan pacar sahabatku tepatnya bukan menemani, tapi sekedar menyapa). Tidak ada yang akan cemburu. Sehingga aku bisa lepas berbicara dengan mereka. Adikku tidak mungkin punya prasangka buruk, begitu juga sahabatku, sebab mereka tahu aku tidak akan merebut pacar mereka. Semua pembicaraan tanpa fokus, sekedar “menggantikan” pacar-pacar mereka yang sedang sibuk mengurusi orderan.Posted by lain-lain at 2:21 AM | Labels: renungan | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Aku ingin Ingat
Friday, August 30, 2013
Aku ingin ingat, sungguhSaat di bawah terik menyengatTunggui ibu pulang membawa makanansegenggam nasi dengan sepotong kecil tempeia suapkan ke mulutku berhamburan di pipiTersenyum singkat ia memandangJauh dalam lamunan, bergumam“Hidup seperti sumbu menyala,percikan kembang api yang hilang seketika.”Perempuan yang sendirianSampai di ujung jalan melambai tanganKabut mengaburkan titik pandangDi atap rumah muncul awan legamIa tak lagi pulang membawa makananAku berduka sebagaimanaKompor yang enggan menyalaPiring-piring kotor dan makanan sisaDi lantai tempat mencuciPakaianku tak digantiAku ingin ingat, sungguhSaat perempuan yang sendirian ituMenyulam anaknya hingga kuat berkawanDengan kehidupan, seperti-Sarung tangan yang selalu ia pasangkanSaat malam aku kedinginanYogya, Mei 2013Posted by lain-lain at 3:28 AM | Labels: puisi | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |