-
Aku Ingin Dipeluk, Rasakan Tangismu Dipundakku
Friday, August 30, 2013
Setiap kali engkau merendahkan suara menanya keadaan, serasa aku sedang dipeluk mendengarkan tangismu, seperti saat aku pulang dulu. Aku sering terdiam di sela percakapan. Kau justru khawatir mengira aku belum makan. Tidak, itu karena tangisan yang kutahan.
Posted by lain-lain at 2:15 AM | Labels: Cerita Pendek | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Tak Lupa Teringat
Wednesday, July 17, 2013
Mereka bilang aku pelupa. Aku melupakan segala sesuatu. Aku lupa mengganti bajuku, aku lupa aku sudah makan atau belum, aku lupa meletakkan barang-barangku, aku lupa nama teman-teman lama ku, aku lupa jalan pulang, aku lupa bahwa ada seorang teman yang sedang berpapasan denganku, aku melupakan segalanya kata mereka.Mereka berkata, jangan-jangan aku sudah lupa jalan menuju rumahmu. Aku mungkin sudah lupa nama dan wajahmu. Aku sudah lupa bagaimana mengungkapkan cinta. Aku juga sudah lupa aku pernah mencintaimu. Aku bahkan, kata mereka, telah lupa kalau cinta itu ada.Namun aku tidak lupa, itu saja.Aku memang sering lupa mengingatmu, tapi aku tidak pernah lupa teringat padamu. Hidup ini terlalu sulit sehingga ruang pikir untukmu begitu sempit. Aku tidak pernah sanggup mengingatmu saat aku harus bergelut dengan persoalan keseharianku. Itu hanya akan membuatku kehilangan harapan. Aku akan menyerah, putus asa, dan merasa tidak pantas. Kata mereka juga, hidup itu tidak bisa makan cinta.Aku menghabiskan hari-hariku untuk berbuat sesuatu, sekedar agar besok masih bisa melakukan sesuatu. Saat malam jika aku kelelahan, aku akan tidur lebih cepat tanpa sempat memikirkan apa-apa. Pada malam lain aku akan didera kebosanan, aku akan berjalan-jalan dan tidur lebih larut seperti biasanya. Aku bisa tidur lebih cepat atau lebih lambat, tapi aku selalu bangun pada saat yang sama. Dengan kondisi yang sama.Pada setiap akhir tidurku itu, tiba-tiba aku menjadi setengah sadar. Tak seorang pun mampu memikirkan apapun dalam kondisi itu. Dadaku kemudian terasa bergejolak, seperti ombak yang hendak pecah di udara. Entah bagaimana aku kemudian menitikkan air mata. Hangat dan begitu lega. Ingatan pertamaku setelahnya adalah: dirimu. Saat itu juga, rasanya aku ingin tertidur lagi lalu membiarkan jiwaku menyusup ke dalam mimpimu. Aku akan mengatakan aku tidak pernah melupakanmu.Subuh masih jauh. Aku terus terjaga. Aku hanya membiarkanmu berada di tepi ruang pikirku, membiarkanmu berdiam membisu disana. Tapi aku tidak pernah mengusirmu. Mungkin aku terlalu tega membiarkanmu duduk bersebelahan dengan kenangan-kenanganku yang lain. Sungguh, aku tidak ingin melakukannya, aku hanya tidak apa yang harus aku lakukan.Kerap kali, aku ingin berkunjung ke rumahmu sekedar menyapa. Bertanya apa kabar disana, lalu senyum penuh makna mengakhiri pertemuan kita. Aku tidak pernah melakukannya. Aku pun tidak tahu kenapa. Setiap pagi aku hanya menyelesaikan sarapanku, lalu ke luar rumah untuk mencari kesibukan. Dalam perjalanan aku bahkan lebih mudah berpikir untuk mampir di warung tempat aku biasa makan daripada sekedar melewati depan rumahmu. Aku akan mengakhiri perjalanan soreku dengan duduk di sebuah jembatan menunggu matahari terbenam. Lalu aku pulang untuk menyegarkan diri dan merencanakan hidup untuk besok hari.
Mungkin itulah, mengapa mereka mengatakan aku telah melupakanmu. Aku tak peduli itu. mereka bilang, jika memang cinta, aku harus memilikimu. Aku tanya mereka apa itu cinta, tak satupun bisa menjelaskannya. Aku tak harus mendengarkan saran yang bahkan tidak dimengerti oleh pemberi saran. Aku yang merasakan, aku yang memutuskan. Mungkin benar kata mereka aku telah melupakan. aku lupa mengingat, tapi tidak lupa teringat.Posted by lain-lain at 12:07 PM | Labels: Cerita Pendek | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Insomnia Rasa
Monday, July 1, 2013
seakan ia akan mengetuk pintu kamarmu,jantungmu berdebarseakan ia meneliti gerak-gerikmu,engkau gelisahdia datang sesuka-sukameremas jantungmenguras kantung air mataengkau terjagamimpi indah jadi bencanamalam memanjangangin menggodamembisikimu suaranyamenyusup, menggelitik imajinasituts piano berbunyi dikepalamengajakmu berdansakamar gelap, dinding menjadi kanvassiluetnya menjejak-jejakmembayang-bayang di sepanjang garis fajarhingga ke barat cakrawalaseperti grafiti yang silih bergantimenutupi dinding kotasetelah itu pertemuanmu dengan bulanmembangkitkan percakapan rahasiatentang kesadaran yang telah hilangsejak awal pertemuanmenunggu, menjadikan kamarmu belantaraengkau sunyi dalam keramaianharapan mencekam waktuseandainya bisa, kau lipat ruang dan kau pandangia seperti film kesukaankau rekam setiap incinya dalam tulisansekedar mengingatkan betapa ia adalah sejarahyang mungkin nanti akan kau ceritakanketika langkah telah lelah menelusuri desahPosted by lain-lain at 11:03 PM | Labels: puisi | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
BBM naik, payah... (sebuah percakapan kecil di pasar)
Saturday, June 22, 2013
"yo BBM naik, harga-harga pada naik, mas," kata ibu itu menanggapi pertanyaanku,"payah". dia diam sejenak, "Tapi harga kulakan saya belum naik." aku meng-O saja, lalu tersenyum, seperti biasa. aku lalu duduk disamping kanannya. ku perhatikan barang jualannya, tidak seperti biasa. ada beberapa jenis bunga yang biasa disebarkan di kuburan. biasanya ibu itu hanya menjual tembakau saja. sudah 35 tahun katanya. aku bertanya kepadanya apa nama-nama bunga itu. dia menjawab sambil menunjuk satu persatu jenis bunga. ada mawar merah, mawar putih, melatih, telatih, dan kanthil. 2 nama bunga yang terakhir ini barangkali tidak dapat kurapalkan dengan benar. aku bahkan meminta dia berkali-kali untuk mengulangi nama-nama bunga itu.dia lalu bangkit mengemasi tembakaunya. memang biasanya dia tutup sekitar jam 12-an siang. "mau tutup ya bu?""belum, cuma ngemasi tembakaunya dulu, sudah mau hujan soalnya." katanya sambil menunjuk ke langit yang diselimuti awan mendung. aku biarkan saja dia dengan kegiatannya itu. tidak berapa lama, ia selesai. lalu duduk lagi di sampingku."harga-harga udah pada naik, yang paling kerasa itu berambang (bawang merah),..." aku tidak dapat mendengar dengan jelas apa saja yang ia sebutkan, karena terganggu dengan suara kendaraan yang sangat ramai."kalau beras?" tanyaku. "beras juga naik, tapi cuma sedikit." aku mengangguk dengan wajah lugu. lalu kami terdiam sejenak. perhatianku teralihkan dengan 2 bocah SMP "kurang ajar", yang mendelik kepada seorang pengendara sepeda tua karena menganggap pak tua itu menghalangi jalannya. setelah itu ibu itu berkata,"mas, kalau BBM naik, Juragan besar tambah kaya. kalau kita pedagang kecil..." dia berhenti lalu tersenyum kecut,"tambah payah.." katanya dengan suara lirih. aku hanya bisa tersenyum. tidak bisa berkata apa-apa."juragan besar makin untung, kita buntung." katanya melanjutkan. entah mengapa, aku tidak ingin melanjutkan perbincangan itu. aku berusaha mengalihkan topik. kusentuh keranjang-keranjang kecil berisi bunga yang ada di samping kiri ku, "bunganya ini tahan berapa lama bu?""paling besok udah layu mas,""satu keranjang ini harganya berapa, bu?""15.000 mas, 25.000 ribu 2. tapi ya tergantung mas, asal terjual aja." jawabnya. "sekarang udah nggak kayak dulu-dulu lagi. dulu kalau sudah mau dekat ramadhan seperti ini biasanya sudah ramai orang yang membeli bunga. sekarang..." dia menghela napas,"orang sudah mulai melupakan tradisi. ya, jadinya banyak yang nggak laku mas. kemarin aja banyak bunga yang terbuang, rugi 100 ribu. kalau kita orang kecil rasanya gimana gitu. sakit hati. tapi mau gimana lagi mas. namanya juga orang dagang. yah, asal sekedar bisa hidup saja mas."aku tetap tidak bisa menanggapi apa-apa. entah karena apa. barangkali karena ngantuk atau terlalu khawatir dengan kelanjutan percakapan ini. untungnya dia teralihkan dengan seorang pembeli. setelah pembeli itu pergi. dia dengan hati-hati mencopoti kelopak bunga yang sudah layu lalu memasukkannya ke dalam keranjang. aku perhatikan saja dia. kemudian, terasa bulir hujan sudah mulai jatuh ke tanah. takut kehujanan dalam perjalanan pulang, aku lalu pamit pergi dari sana. meninggalkan dia yang masih sibuk dengan bunga-bunganya. :)Pasar Sentul, 22 Juni 2013ps:1. komentar tentang BBM itu adalah komentar ke 2 dari pedagang hari ini.2. ibu itu berbicara dengan bahasa indonesia campur jawa. tapi disini aku terjemahkan semua.Posted by lain-lain at 1:22 PM | Labels: embuh | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
(Barangkali ini) Kisah Inspiratif dan Unik
Saturday, May 25, 2013
Sore tadi saya mengikuti kuliah di Asrama Mahasiswa UAD. Kuliah pengganti. Perkuliahan selesai ketika waktu maghrib masuk. Setelah shalat Maghrib hujan turun deras. Saya memutuskan untuk berteduh sejenak. Setelah hujan agak reda saya memutuskan untuk pulang.Sekian menit berjalan, saya sampai di pertigaan di sebelah selatan Kampus 2 UAD. Pertigaan yang salah satu jalannya mengarah ke pasar Kota Gede. Waktu itu hujan masih rintik. Saya melihat seorang anak perempuan berambut sebahu sedang meminta uang kepada pengendara jalan didekat lampu merah. Pemandangan semacam itu lazim ditemui di kota ini. Umur anak itu sekitar 11 atau 12 tahun. Anak yang seharusnya (dalam ideal kita) sedang berada di rumah, bercengkrama dengan saudara-saudaranya atau sedang mengerjakan tugas rumah dari guru-gurunya. Tapi saya pun tidak tahu apakah dia bersekolah atau tidak.Dia mengulurkan tangan kanannya ke setiap pengendara sepeda motor ataupun mobil yang ia temui di sekitar lampu merah tersebut. tidak ada satu orang pun yang memberi. Beberapa saat kemudian seorang laki-laki dengan mengendarai sepeda berhenti di dekat lampu merah. Pikiran pertama saya, dia berhenti karena lampu sedang merah. Laki-laki itu, yang berumur sekitar 30 tahunan, melirik ke arah gadis kecil ini. Dia sepertinya hendak merogoh sesuatu dari saku bajunya. Tapi ia mengurungkan niatnya, karena gadis itu tidak menoleh ke dirinya. Dilihat dari gelagat wajahnya, saya kira dia ingin memberikan sesuatu kepada gadis tersebut.Sepertinya si gadis kecil melihat tindakan laki-laki tadi. Ia dekati lelaki dengan sepeda itu. Dan benar, si lelaki mengeluarkan uang dari saku bajunya. Uang kertas. Tidak mungkin uang itu adalah uang 500 rupiah, apalagi 200 atau 100 rupiah. Saya tidak dapat memastikan uang berapa ia berikan. Pastinya, uang itu minimal bernominal 1000 rupiah.Setelah memberikan uang itu si lelaki lansung pergi menerobos lampu merah. Ternyata dia hanya berhenti untuk memberikan uang kepada gadis kecil tadi. Mengetahui itu, saya tersentak. Entah bagaimana, saya merasa malu. Sampai detik ini saya bahkan tidak tahu, kenapa pada waktu itu saya merasa malu.(salah satu hal yang aku suka dari berjalan kaki, menemukan sesuatu yang seringkali tidak diperhatikan oleh banyak orang,,, J)Posted by lain-lain at 10:05 PM | Labels: renungan | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Pada Sebuah Hujan
Tuesday, May 21, 2013
titik-titik air berbarismenjadi rangkaian not balok di atas lembar notasimulanya jengah, lalu bergerak mengikuti irama.hujan turun seperti tarian para pecintadebu-debu basah menempel di kaki celanadan kait terkoyak di tepi telagatapi kunang-kunang bercahayaada tetes yang lebih bening di genangan jalantangisan pohon saat keangkuhan luruh dari dedaunankarangan bunga mekar dan berakarmenjalar dari nadi hingga ke atap, pintu, dan jendeladi depan – tubuh kuyup meratapi ruh mabuk di dalamtamu hening menyusup, membimbingkan kredo baruPosted by lain-lain at 7:09 PM | Labels: puisi | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Tentang Pernikahan dan Status sosial: Sebuah Cerita
Sunday, May 19, 2013
Temanku satu ini benar-benar beruntung. Dia laki-laki miskin tapi ganteng. Urakan, and some people call him childish. aku sudah mengenal dia sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu, namun aku tidak pernah menyangka kalau kami akan dekat saat ini. Beberapa waktu lalu dia bercerita panjang kepadaku. Sebuah kisah asmara yang sering kutemukan di dalam novel, tapi baru kali ini aku temukan di dunia nyata. Satu laki-laki yang “dicintai” oleh 3 orang perempuan, tapi tidak ada satu pun yang beruntung sampai detik ini. Penyebabnya adalah perbedaan status.Posted by lain-lain at 12:21 PM | Labels: embuh | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |